Politik Pemerintahan

Belum Ada Setahun, Gedung Sentral IKM Senilai Rp 30 M di Ponorogo Sudah Rusak

Komisi C DPRD Ponorogo melakukan sidak di Bangunan Sentral IKM di jalan Trunojoyo.(foto : Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Kondisi bangunan sentral Industri Kecil Menengah (IKM) yang kelihatan megah kalau dilihat dari luar, ternyata di dalamnya banyak ditemukan kerusakan. Seperti beberapa dinding yang mengalami keretakan dan banyak lantai yang ambles. Selain itu juga terlihat plafon bangunan yang rusak.

Kerusakan-kerusakan tersebut setidaknya yang diungkapkan oleh anggota komisi C DPRD Ponorogo yang pada hari Senin (11/11/2019) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke bangunan
yang berada di jalan Trunojoyo Kelurahan Tambakbayan Ponorogo tersebut.

”Material bangunannya kurang bagus, banyak ditemukan lantai yang ambles dan dinding yang sudah retak-retak,” kata ketua komisi C DPRD Ponorogo Widodo, Senin (11/11/2019).

Widodo mengungkapkan hasil bangunan yang tidak maksimal ini tidak berbanding lurus dengan uang yang dianggarkan untuk pembangunan gedung tersebut. Dia menyebut anggaran Rp 30 miliar yang digunakan untuk membangun, harusnya hasil atau kualitas bangunannya baik.

”Masa ini belum ada setahun, banyak plafon yang rusak dan dindingnya juga retak-retak,” katanya.

Dengan temuan tersebut, Widodo menyebut merekomendasikan agar bangunan tersebut segera diperbaiki. Karena pemeliharaannya saat ini masih menjadi tanggungjawab rekanan yang ditunjuk Pemkab.

”Kewajiban rekanan melakukan pemeliharaan kurang 1,5 bulan lagi. Kami mendorong dinas terkait untuk mendesak rekanan segera melakukan perbaikan atas kerusakan-kerusakan gedung tersebut,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkum) Ponorogo Addin Andanawarih mengakui tentang adanya kerusakan di gedung sentral IKM tersebut. Kerusakan-kerusakan itu, kata Addin juga dipengaruhi oleh faktor alam. Salah satu bangunan untuk sentra industri batik misalnya pada musim penghujan lalu terkena banjir setinggi 2 meter. Selain itu pada saat yang sama juga terjadi angin kencang, yang menyebabkan beberapa plafon rusak.

Addin menyebut jika perbaikan ini masih menjadi tanggung jawab rekanan. Disperdagkum, kata Dia sudah menyurati 2 kali kepada pihak rekanan. Mereka mengatakan bahwa kerusakan karena juga faktor alam. Dulu sebelum jadi bangunan, tanah ini merupakan lahan tebu. Dan langsung dibuat pematangan lahan dengan pemadatan. Pemeliharaan oleh rekanan ini berlangsung satu tahun, dari bulan Januari sampai bulan Desember 2019.

”Setelah itu kalau ada kerusakan menjadi tanggungjawab kami, maka kami harus menyiapkan untuk pemeliharaan,” pungkasnya.(end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar