Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Belajar Tadarus di Ponpes ABK KH A Dahlan Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Bulan suci ramadan menjadi momen bagi semua umat Islam untuk mengambil berkah sebanyak-banyaknya. Beragam kegiatan ibadah dilakukan demi mendapat ridha Illahi. Tak terkecuali bagi mereka umat muslim yang berkebutuhan khusus.

Salah satunya kegiatan ibadah di Pondok Pesantren Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) KH Ahmad Dahlan, Banyuwangi. Setiap hari tak kurang puluhan jamaah komunitas penyandang tuna netra di Kota Gandrung menyambangi ponpes Jl Singosari atau tepatnya di belakang kompleks masjid di Jl Adi Sucipto, Kelurahan Tamanbaru, Banyuwangi.

Bagi mereka, memiliki keterbatasan fisik tidak menjadi halangan bagi seseorang untuk menjalankan ibadah di bulan suci ramadan. Mereka tampak semangat menjalankan ibadah meski berbeda cara layaknya orang normal.

Kali ini, mereka berusaha melafalkan ayat pada kalimat Al-Quran dalam metode khusus. Para penyandang tuna netra ini mendapat lembaran Al-Quran braile untuk mengaji.

Secara perlahan, komunitas yang terdiri dari siswa dan warga ini perlahan menghafalkan ayat-ayat suci Al-Quran didampingi para pengajar. Tidak mudah bagi para penyandang tuna netra untuk bisa membaca ayat suci Al-Quran dengan tulisan huruf braile.

Butuh kepekaan lebih dibanding tulisan biasa. Hal ini dilakukan karena setiap tulisan Al-Quran memiliki tanda baca terutama pada hukum bacaan atau tajwid sehingga mereka dituntut untuk mampu memaksimalkan kepekaan jari jemari.

Mereka mengaku selama bulan ramadan merupakan kesempatan untuk terus mengasah dan belajar Al-Quran dengan harapan bisa menghafal surat-suratnya.

“Selama ramadan terus tadarus, Alhamdulillah saya juga punya grup sehingga bisa tadarus bersama,” kata Nanik Nurhayati salah seorang anggota Komunitas Penyandang Tuna Netra, Jumat (15/4/2022).

Belajar membaca Al-Quran dengan huruf braile memang tidak gampang. Karena butuh ketelitian menyesuaikan dengan pemahaman huruf per-huruf dengan ketepatan rabaan jemari. Apalagi, mereka juga dituntut untuk belajar panjang-pendek suara disesuaikan dengan hukum tajwidnya.

“Alhamdulillah, saya sudah belajar sejak SD kelas 1 braile dasarnya ya, itupun Al-Qurannya sama sejak itu pula. Selama ramadan ini kita tadarus setiap hari, kecuali pas sakit,” terangnya.

Pembelajaran membaca alquran braille ini, menggunakan konsep diskusi. Para peserta yang masih belum bisa membaca nantinya akan dibantu oleh peserta lainnya yang sudah bisa membaca alquran braille.

Bimbingan membaca Al-Quran tersebut tidak hanya diajarkan pada saat di bulan ramadan saja. Namun juga terus diberikan pada hari-hari biasa melalui program khusus yang diberikan oleh yayasan Ponpes KH Ahmad Dahlan, Banyuwangi.

Sebagai tambahan, Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan ini, anak-anak berkebutuhan khusus itu sehari penuh selama 24 jam ditangani oleh pengasuh.

Selain menerima anak untuk dipondokan, KH. Ahmad Dahlan ini juga membuka layanan untuk orang tua yang belum siap memondokkan anaknya. Artinya pembelajaran bisa dilakukan di rumah masing-masing. Nantinya, guru yang akan datang ke rumah masing-masing mengajar anak berkebutuhan khusus itu.

Sejak awal, mereka yang belajar di pondok pesantren ini juga tidak hanya berasal dari Banyuwangi, bahkan berasal dari luar pulau seperti Sumatera, Bali, Sulawesi. (rin/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar