Politik Pemerintahan

Bawaslu Ponorogo Persoalkan Pulpen Petugas Coklit yang Rawan Penularan Covid-19

Juwaini melihat PPDP yang bertugas mencoklit data pemilih. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Tahapan Pilkada Ponorogo 2020 saat ini masuk pada tahap pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih. Sebanyak 2.080 petugas pemutakhiran data pemilih (PPDP) keluar masuk rumah penduduk untuk mendata. Penerapan protokol kesehatan bagi PPDP saat bertugas dapat perhatian serius dari Bawaslu Ponorogo. Sebab, tahapan yang dilakukan saat pandemi ini, tidak ingin menjadi mata rantai penularan Covid-19.

“Masih adanya prosedur dalam coklit ini, rentan menjadi saranan penularan virus corona,” kata Kordinator Divisi Pengawasan Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga Bawaslu Ponorogo Juwaini, Sabtu (25/7/2020).

Juwaini mengungkapkan, setelah melakukan beberapa sampling monitoring oleh pengawas desa, pihaknya menemukan adanya logistik berupa pulpen yang dipakai untuk melakukan coklit hanya berjumlah satu buah. Padahal dengan pulpen ini, selain digunakan oleh PPDP untuk menulis dan mendata pemilih yang dikunjungi, pulpen ini juga digunakan untuk tanda tangan oleh pemilih yang dicoklit tersebut. Tanpa adanya penawaran kepada pemilih untuk menggunakan pulpen milik sendiri, atau pulpen tersebut sudah bisa dipastikan steril.

“Kami khawatir interaksi dengan pulpen yang digunakan petugas dan pemilih bergantian, sangat rawan sebagai media penularan virus dalam pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,” katanya.

Juwaini juga menjabarkan temuan adanya pulpen yang diberikan kepada petugas coklit hanya satu, sedangkan apabila ingin pakai pulpen berbeda harus beli sendiri, demikian juga peralatan lain berupa penggaris harus disediakan sendiri oleh PPDP. Dirinya menyayangkan keberadaan logistik kecil dan sepele yang harganya murah tersebut tidak dipenuhi secara layak oleh KPU dan menurutnya ini cukup membahayakan.

“Jangan sampai virus ini tertular dari rumah ke rumah, masyarakat sudah patuh tidak beraktivitas di luar rumah tetapi dikunjungi dengan adanya potensi tertular virus, ” ungkapnya.

Disisi lain Bawaslu Ponorogo menilai penerapan protokol kesehatan Covid-19, dengan penggunaan face shield, masker, dan sarung tangan sudah cukup memadai dan patuh digunakan oleh PPDP.

Untuk penggunaan hand sanitizer perlu perhatian serius sering digunakan saat berinteraksi dengan orang yang berbeda. Pemahaman PPDP dalam regulasi coklit terhadap pemilih yang, identitas dan orangnya tidak bisa ditemui dari rumah ke rumah juga sebagian masih bingung dalam penyikapinya. “Temuan ini, harapannya bisa jadi bahan evaluasi dalam awal tahapan coklit ini, sebab saat ini PPDP masih masif mengunjungi seluruh rumah yang ada di Ponorogo,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar