Politik Pemerintahan

Bawaslu Jatim: Ribuan Data Pemilih Bermasalah, PPDP Kurang Patuh Protokol Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Tahapan Pencocokan dan Penelitian (Coklit) masih akan berakhir 13 Agustus nanti. Namun hingga akhir Juli, Bawaslu di Jawa Timur menemukan ribuan data pemilih bermasalah. Hal ini karena ada Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) mencoklit tidak sesuai dengan ketentuan.

Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Jatim, Aang Kunaifi mengaku menemukan formulir A.A.2-KWK (stiker) yang ditempel oleh PPDP, tanpa di tanda tangani terlebih dahulu oleh pemilik rumah. Ada juga PPDP hanya melihat KK tanpa mencocokkan dengan KTP, lalu menganggap seluruh rumah memenuhi syarat.

“Seharusnya PPDP memastikan data di KK sesuai dengan KTP. Jangan lalu diklaim semua yang ada di KK memenuhi syarat. Termasuk juga tidak menempel stiker tanpa ada tanda tangan dari pemilik rumah,” terangnya, Kamis (30/7/2020).

Alumni Umaha ini juga mengaku jajarannya menemukan PPDP yang tidak dapat menemui pemilih, lalu coklitnya diserahkan kepada aparat RT/RW. Di samping juga ada temuan, PPDP tidak melakukan perbaikan data jika ada perubahan elemen data.

“Kami juga menemukan ada indikasi PPDP bekerjasama melakukan coklit di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bahkan, seluruh formulir A.A 1 KWK (tanda bukti telah dicoklit) sudah diisi terlebih dahulu oleh PPDP, sebelum datang ke rumah pemilih,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Aang juga mengaku menemukan PPDP melimpahkan tugas kepada orang lain. “Ini sangat berisiko, apalagi KPU telah menetapkan bahwa data pemilih merupakan informasi yang dikecualikan, termasuk untuk pengawas pemilu. Ini ada orang yang bukan bagian penyelenggara pemilu, membawa dokumen yang terdapat informasi yang dirahasiakan. Jajaran kami akan memproses hal yang seperti demikian dan tidak segan untuk merekomendasikan untuk dilakukan coklit perbaikan,” tegasnya.

Yang juga disesalkan Aang adalah, sebagian PPDP kurang patuh terhadap Protokol Covid-19. “Tahapan pilkada dilanjutkan dengan syarat protokol pencegahan persebaran Covid-19 harus dipatuhi. Itu yang harus disadari oleh semua pihak,” tutur Aang.

Alumni Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik ini menghadirkan data Bawaslu Pacitan yang menemukan ribuan pemilih yang terdata masih bermasalah. Ada 6.548 pemilih yang tidak memenuhi syarat tapi masuk dalam A-KWK (daftar pemilih), 1.584 pemilih belum melakukan perekaman e-KTP, 220 pemilih ganda identik, 2.106 pemilih memenuhi syarat tapi tidak terdaftar, dan 5.355 pemilih yang salah alamat dan NIK.

“Ini baru satu kabupaten, ada ribuan data pemilih bermasalah. Untuk daerah lainnya kami sedang rekapitulasi temuan. Yang jelas, kami akan terus mengawasi secara ketat tahapan krusial ini. Bagian dari komitmen gerakan #bawaslujagahakpilih,” pungkas Aang. (tok/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar