Politik Pemerintahan

Banyuwangi Kata Akademisi dan Praktisi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Strategi pengembangan pariwisata di Banyuwangi masih menarik untuk menjadi rujukan. Bahkan, inovasi besutan Bupati Abdullah Azwar Anas itu juga menginspirasi banyak kalangan.

Baru-baru ini, ratusan akademisi dan pelaku pariwisata se-eks karesidenan Besuki secara khusus menimba ilmu dari pemimpin Banyuwangi. Secara khusus Anas memaparkan strategi pengembangan pariwisata Banyuwangi hingga adaptasinya di masa pandemi.

Aktivitas itu berlangsung dalam webinar yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember. Webinar menghadirkan narasumber Rektor UNEJ Iwan Taruna, Sekretaris Umum Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Pusat Solikin M. Juhro, Kepala Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Bupati Anas mengatakan jika Banyuwangi mengembangkan pariwisata dengan memaksimalkan potensi yang ada di daerah. Banyuwangi memiliki bentang alam yang luar biasa. Tradisi seni-budayanya juga sangat kuat.

Selain itu, Banyuwangi juga menjual prestasinya ke daerah lain. Berkat kerja keras seluruh rakyat, berbagai prestasi yang diterima oleh daerah tersebut dijadikan benchmark oleh daerah lain. “Kami bekerja keras untuk berinovasi dan berprestasi, sehingga mengundang ratusan ribu orang tiap tahunnya datang untuk belajar sekaligus berwisata. Banyak yang menyebutnya Wisata Prestasi,” terang Anas, Sabtu (17/10/2020).

Selain itu, Banyuwangi juga melakukan langkah-langkah strategis dalam memasarkan daerahnya. Ada sejumlah formula yang dilakukan pemkab, yang biasa Bupati Anas menyebutnya dengan Anti Mainstream Marketing.

Sejumlah pendekatan anti-mainstream yang dikerjakan antara lain Setiap Dinas adalah Dinas Pariwisata, Dari Kota Santet Menuju Kota Internet, Semakin Terbawah Semakin Prioritas Teratas, Semakin Misteri Semakin Diminati, hingga Rumah Sakit Bukan Tempat Orang Sakit.

”Banyak orang bertanya lho kok di Banyuwangi setiap dinas adalah dinas pariwisata? Dinas-dinas tetap ada. Namun ini adalah wujud dari tourism centered economy, ekonomi yang bersumbu pada pariwisata. Misalnya Dinas Pertanian membuat Agro Wisata di lahan yang luas. Selain menjadi destinasi wisata, kawasan itu juga menjadi laboratorium pengembangan produk-produk pertanian. Hal semacam ini juga kami dorong untuk dinas yang lain,” kata Anas.

Khusus di masa adaptasi baru ini, lanjut Anas, Banyuwangi menyusun skema protokol kesehatan dan menerapkannya secara ketat di sejumlah destinasi wisata. Banyuwangi melakukan sertifikasi protokol kesehatan Covid-19 untuk seluruh destinasi wisata, hotel, homestay, dan kafe serta restoran hingga warung-warung rakyat.

Semua yang telah lulus uji protokol ketat yang dijalankan dan disupervisi para ahli Dinas Kesehatan diberi sertifikat dan disajikan di aplikasi Banyuwangi Tourism. “Sertifikasi serupa juga kami lakukan kepada para pemandu wisata. Hal ini untuk menjamin kenyamanan dan keamanan bersama,” kata Anas.

Sementara itu, Dekan FEB Universitas Jember Muhammad Miqdad sengaja memilih Banyuwangi karena daerah ini berhasil membangun pariwisata sebagai identitas baru sekaligus membawa kemajuan bagi daerah.

“Kami pilih Banyuwangi karena sukses mengembangkan konstruksi pariwisata hingga menjadi destinasi pilihan di Indonesia. Capaian ekonominya juga luar biasa,”

“Untuk itu kami datang langsung kesini untuk mendengar dari Bupati Anas strategi pengembangan pariwisatanya yang berhasil mengerek perkembangan ekonomi rakyatnya. Termasuk adaptasi daerah di masa pandemi covid 19 ini,” kata Dekan FEB Universitas Jember Muhammad Miqdad.

Rektor Unej Iwan Taruna mengatakan, Banyuwangi telah melakukan sejumlah langkah yang tepat dalam pengembangan pariwisatanya khususnya di masa pandemi ini. “Saya mengikuti perkembangan Banyuwangi melalui berita, pariwisatanya cepat beradaptasi. Salah satunya sejumlah penerbangannya aktif beroperasi di tengah lesunya mobilitas. Ini indikasi yang positif,” ujarnya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar