Politik Pemerintahan

Awey Kembalikan Formulir Bacawali Kota Surabaya ke Gerindra

Surabaya (beritajatim.com) – Bakal Calon Wali Kota (Bacawali) 2020 Surabaya Vinsensius Awey mengungkap dua poin sekaligus tantangan yang diberikan Partai Gerinda dalam proses penjaringan.

Dua hal tersebut yakni strategi pendanaan kampanye dan strategi pemenangan pemilhan walikota (pilwali) 2020.

Usai resmi mengembalikan formulir pendaftaran Bacawali di Partai Gerindra, di Kantor DPC Gerindra Surabaya Jalan Gayungan, Awey menyampaikan sudah menyiapkan dua strategi tersebut.

“Jadi setiap partai mempunyai tantangan tersendiri dan di Gerindra selain visi misi calon yg diminta ada dua poin strategi ini sangat menarik,” kata Awey politisi Partai Nasdem.

Untuk strategi pendanaan kampanye, Awey menyampaikan memiliki beberapa metode, yakni menggelar penggalangan dana, membuka sumbangan online, dan masih banyak hal lain.

Menurutnya metode penggalangan dana ini sangat efektif, apalagi cara ini pertama kali dilakukan oleh Barack Obama yang berhasil pada 2012 lalu.

“Pada pemilu yang digelar 6 November 2012, Barack Obama dari Partai Demokrat tidak saja menang suara secara meyakinkan namun juga menang dalam penggalangan dana,” kata dia.

Ia menjelaskan dana sumbangan yang masuk untuk kampanye akan dilaporkan secara real time. Agar tetap ada transparansi anggaran kampanye dari pihak partai dan penyumbang, dan pendukungya. Karena publik berhak mendapatkan informasi utuh tentang siapa saja donor di balik dana kampanye para kandidat.

Selain itu, Awey menegaskan akan menghindari pendanaan dari perusahaan atau perorangan yang tidak pada kepentingan umum masyarakat Kota Surabaya. Hal tersebut agar upaya dan kinerja yang dilakukannya tetap berjalan sesuai dengan visi misi untuk membangun dan mensejahterahkan rakyat.

Sementara itu, untuk strategi pemenangan pilwali 2020, Awey menyampaikan akan melakukan survei Pra-Pilwali. Sehingga proses demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi, dan diprediksi dalam proses maupun hasilnya.

“Survei ini pendekatan penting dan lazim dan terbukti berhasil dilakukan di negara maju dan di berbagai provinsi, kota dan kabupaten di Indonesia,” kata dia.

Menurutnya pilwali saat ini sudah masanya meraih kemenangan berdasarkan data empirik, ilmiah, terukur, dan teruji.

Selanjutnya melakukan pengelolaan hasil survey, kata Awey, mantan Ketua PP PMKRI 1996 – 1998, setelah itu menggelar kampanye dengan target tertentu untuk dapat menjangkau sebanyak mungkin pemilih melalui apa yang saya sebut Micro-targeting.

“Micro-targeting ini strategi pemasaran yang menggunakan data demografis dalam mengidentifikasi rasa ketertarikan setiap individu ataupun kelompok kecil tertentu,” kata dia.

Awey yang juga mantan aktivis reformasi mengungkapkan dengan micro targeting kandidat bisa mempengaruhi pemikiran, keputusan, dan aksi mereka.

Sebagai informasi, modal suara yang dimiliki Awey saat maju Pileg 2019 lalu mencapai 25.000 suara untuk Kota Surabaya saja. Bersaing dengan 10 caleg dari masing-masing Partai x 16 Partai = 160 caleg sedapil.(ifw/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar