Politik Pemerintahan

Awas! Warga Jember Toleran terhadap Politik Uang

Jember (beritajatim.com) – Tingkat toleransi warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, terhadap praktik politik uang tinggi dalam pemilihan kepala daerah. Kelas pendidikan lebih rendah lebih toleran terhadap politik uang.

Berdasarkan survei Politika Research and Consulting (PRC) terhadap 500 responden, 49,2 persen memandang pemberian uang atau hadiah untuk memilih calon tertentu adalah hal yang wajar dan bisa diterima. Sementara itu 46,8 persen menyatakan itu tak wajar dan tak bisa diterima.

Namun kendati demikian, politik uang ternyata tak efektif. Sebanyak 58,4 persen responden menyatakan belum tentu memilih calon bupati dan wakil bupati yang memberikan sejumlah uang. Sebanyak 16,2 persen menyatakan tidak akan memilih walau sudah diberi uang, dan hanya 21,2 persen yang menyatakan akan memilih calon yang memberi uang.

“Responden dengan tingkat pendidikan tamatan SMP ke bawah lebih berminat kepada money politics. Entah itu karena keterbatasan ekonomi, atau memang dia berharap, atau ketiga, dia pada dasarnya tidak melek politik. Artinya dia beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden, pemilihan kepala desa harus ada uangnya untuk berangkat ke TPS,” kata Manajer Program PRC Arif Prio Wicaksono.

Sementara untuk responden dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan melek politik, menurut Arif, cenderung tidak menerima politik uang. “Kalaupun mereka menerima, belum tentu mereka memilih,” kata Arif.

Sementara itu, akademisi Universitas Jember Muhammad Iqbal meminta agar semua kandidat tidak melakukan politik uang. “Hasil survei ini jadi alarm bagi Bawaslu untuk lebih jeli dan aktif lagi memantau pergerakan politik uang ini,” katanya, Selasa 98/12/2020). [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar