Politik Pemerintahan

Mengenal Anarkisme (1)

Apakah Anarkisme Itu?

foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Polisi menangkap sejumlah anak muda di beberapa kota. Tuduhannya tidak main-main: berencana membuat kerusuhan. Mereka menyemprotkan cat warna hitam dan membuat grafiti berupa huruf A dalam lingkaran yang menyebar di dinding-dinding kota, selain coretan ‘Bubarkan Negara’ dan ‘Rakyat Tak Butuh Negara’.

Kosakata ‘anarko’ dan ‘anarkisme’ muncul dalam keterangan pers dari aparat keamanan. Sebelumnya, ‘tindakan anarkisme’ dan ‘aksi anarkis’ banyak digunakan oleh pejabat dan aparat negara untuk menjelaskan kerusuhan dan kekerasan massa. ‘Anarkisme; di Indonesia adalah kata ganti dari kerusuhan. Namun benarkah definisi anarkisme adalah kerusuhan atau kekacauan?

Dalam kamus bahasa Indonesia yang ditulis J.S. Badudu, anarki adalah kata dasar dari anarkisme, anarkis, dan anarkistis. ‘Anarki’ diartikan sebagai kekacauan (yang timbul) karena tidak ada peraturan, undang-undang (dalam negara). Sementara ‘anarkisme’ diterjemahkan sebagai paham atau ajaran yang berpendirian bahwa untuk mencapai masyarakat yang sempurna, orang seharusnya diberi kebebasan melakukan apa yang menurut dia baik.

Terjemahan ‘anarki’ dan ‘anarkisme’ oleh Badudu ambigu. Apakah ‘kebebasan melakukan apa yang menurut dia baik’ otomatis sama dan sebangun dengan ‘kekacauan (yang timbul) karena tidak ada peraturan, undang-undang (dalam negara)?

Alexander Berkman dalam buku ABC of Anarchism menyebut, anarki berasal dari kosakata Yunani. “Anarki bukan berarti kekacauan dan ketidakteraturan. Ini justru kebalikan itu semua. Ia berarti tanpa pemerintah, yang berarti kemerdekaan dan kebebasan,” tulisnya.

Encyclopedia of Political Economy terbitan Routledge menyebutkan, bahwa anarkisme adalah ideologi yang meniadakan otoritas terpusat dan tidak mempercayai adanya otoritas tunggal yang mengatur kehidupan sosial. Mereka lebih mempercayai kemampuan individu dalam masyarakat untuk mengatur diri sendiri dan, jika dibutuhkan, bekerjasama dalam sebuah organisasi yang tak memiliki hirarki. Itulah kenapa kemudian negara dan pemerintahan birokratis tak dibutuhkan dalam ideologi ini.

Kaum anarkis mengidamkan sebuah kondisi anarkia, kondisi tiadanya kekuatan atau kekuasaan pemaksa dalam kehidupan manusia. Manusia bebas tanpa ada tekanan negara, karena sejatinya manusialah yang paling tahu apa yang baik untuk kehidupan mereka sendiri.

Nasib manusia ditentukan oleh individu itu sendiri, bukan seseorang atau sekelompok orang yang mendapat mandat kekuasaan untuk mengatur kehidupan bersama. Tidak ada presiden, tidak ada raja, tidak ada sultan, tidak ada pemimpin-pemimpin formal negara yang mengatasnamakan masyarakat.

“Anarkisme adalah sebuah kondisi masyarakat di mana pria dan wanita merdeka, dan semua orang setara menikmati keuntungan kehidupan yang teratur dan masuk akal,” kata Berkman. (wir/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar