Politik Pemerintahan

Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, Bupati Mojokerto Minta Sinergitas Stakeholder

Bupati Mojokerto, Ikfina Fatmawati dan Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra sidak lokasi pertigaan Sungai Watudakon dan DAM Sipon di Desa Pagerluyung, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Sebanyak 604 paket sembako diserahkan oleh Bupati Mojokerto untuk warga terdampak banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Didampingi Wakil Bupati, Ikfina Fatmawati juga memberikan bantuan 9.500 glasing dan 60 gedeg guling.

Bantuan tersebut untuk Desa Sambiroto, Sooko, Jampirogo, Ngingasrembyong dan Tempuran. Bantuan logistik juga diberikan untuk warga Desa Tempuran Sooko yang terdampak bencana hidrometeorologi berupa banjir. Bantuan logistik tersebut berupa air bersih dalam delapan tandon.

Tandon berkapasitas 3.000 liter atau 24.000 liter sesuai kebutuhan tersebut akan didistribusikan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Bantuan tersebut diserahkan Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati didampingi Wakil Bupati, Muhammad Al Barra di balai Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Kepala Desa (Kades) Tempuran, Slamet berharap agar pemerintah daerah dapat membantu pemerintah desa menangani bencana banjir di Desa Tempuran. “Pembangunan DAM Sipon karena penyaringan sampah DAM yang dirasa terlalu kecil menyebabkan penyumbatan,” ungkapnya.

Menurutnya, kelanjutan pembangunan DAM Sipon yang masih diperlukan perbaikan, alat penghancur sampah secara otomatis di penyaringan sampah, sudetan sungai saluran yang digunakan untuk mengalihkan sebagian atau seluruh aliran air banjir untuk mengurangi debit banjir. Pompa Dusun Bekucuk dan Desa Tempuran, pipalisasi untuk air bersih.


“Drainarse di pinggir jalan dan TPS3R agar memudahkan masyarakat untuk membuang sampah,” harapnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini menjelaskan, ada tiga fase dalam penanganan bencana. “Pra bencana, masa tanggap bencana dan pasca bencana. Kabupaten Mojokerto berada pada fase masa tanggap bencana, karena belum dilakukan simulasi uji bencana, banjir sudah datang,” jelasnya.

Selain Destana (Desa Tanggap Bencana), pihaknya juga sudah mempersiapkan inovasi keluarga tahan bencana, tempat ibadah tanggap bencana ataupun fasilitas umum yang tanggap bencana.

Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Al Barra menekankan agar semua dapat dikomunikasikan dengan baik dan permasalahan yang dihadapi segera ditemukan solusinya. Menurut Gus Barra (sapaan akrab, red), bencana banjir tidak hanya berdampak pada lingkungan saja, melainkan juga dapat berdampak pada roda perekonomian masyarakat.

“Pemerintah sudah memberikan perhatiannya kepada panjenengan semua dan sekarang kita tinggal membangun komunikasi. Ketika komunikasi ini lancar tidak ada hambatan, Insya Allah bencana banjir ini bisa tertangani dengan baik,” tegasnya.

Dasar pemikirannya adalah bencana banjir meresahkan semua, merugikan masyarakat dan berdampak pada perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, Wakil Bupati meminta mengkomunikasikan semua agar dapat terselesaikan dan menemukan solusinya. Tujuannya untuk membangun Mojokerto maju,adil dan makmur.

Sementara itu, Bupati Mojokerto, Ikfina Fatmawati mengharapkan, seluruh stakeholder dapat berkerjasama dan bersinergi untuk memulai pembangunan Kabupaten Mojokerto dari pembangunan desa. “Saya harap bapak Pj. Sekda bahwa ini harus segera kita rumuskan agar kedepannya proses perencanaan pembangunan di desa ini sudah punya platform yang jelas,” pintanya.

Kapan akan dilaksanakan di tahun 2021, kapan dilaksanakan di tahun 2022 dan seterusnya. Sehingga kedepannya dapat membangun desa tangguh, tangguh dalam segalanya. Sengan desa tangguh, Bupati mengharapkan selain tangguh bencana, masyarakat desa juga dapat tangguh dibidang sosial, pendidikan anak dan tangguh secara global.

“Diharapkan dengan adanya platfrom atau rootmap seluruh kepala desa juga siap untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan di desanya masing-masing dan yang tentunya setiap desa tidak akan sama dilihat berdasarkan potensi masing-masing desa,” urainya.

Selain bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerro, juga ada bantuan pengeboran air dari Kementerian ESDM. Ini karena sumber air Dusun Bekucuk, Desa Tempuran berasa asin dan keruh. Untuk Desa Tempuran, pengeboran telah dilaksanakan pada 2020 lalu. Selanjutnya perlu tindaklanjut instalasi perpipaan ke rumah-rumah warga.

Bupati Mojokerto dan rombongan melanjutkan kegiatan sidak lokasi pertigaan Sungai Watudakon dan DAM Sipon di Desa Pagerluyung, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk