Politik Pemerintahan

Anis, Kamil, Ganjar, dan Khofifah (2)

Ainur Rohim Penanggung Jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim

Surabaya (beritajatim.com)—Popularitas dan elektabilitas politik empat gubernur di Pulau Jawa: M Anis Baswedan (DKI Jakarta), Ridwan Kamil (Jabar), Ganjar Pranowo (Jateng), dan Khofifah Indar Parawansa (Jatim) terkait isu bakal calon presiden (Capres) 2024 tak bisa dinafikan.

Sejumlah hasil survei dari lembaga kredibel dan berintegritas telah mendukung dan membuktikan kenyataan tersebut. Yang terbaru hasil survei Indobarometer yang dirilis pada Minggu ketiga bulan Februari.

Hasil mengejutkan survei Indobarometer menempatkan Ridwal Kamil (Jabar) yang elektabilitasnya melejit jauh. Kendati Prabowo Subianto masih berada di puncak dengan tingkat elektabilitas 17,2 persen, setelah sebelumnya sempat turun dari 17,6 persen pada survei bulan Juli 2020 menjadi 16,8 persen pada survei bulan Oktober 2020.

Nama Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menyodok peringkat kedua dengan 16,1 persen. Kamil mengungguli bakal capres lain yang juga berlatar belakang Gubernur.

Ganjar Ganjar Pranowo (Jateng) di peringkat ketiga dengan 15,9 persen), Anies Baswedan (DKI Jakarta) di peringkat keempat dengan 7,6 persen, dan Khofifah Indar Parawansa di peringkat keenam dengan 4,3 persen.

Banyak tokoh nasional yang peringkatnya di bawah keempat gubernur di Pulau Jawa tersebut. Misalnya, Tri Rismaharini (PDIP/Mensos) di peringkat ketujuh dengan 3,7 persen, dan Agus Harimurti Yudhoyono (Ketua Umum Partai Demokrat) di peringkat kedelapan dengan 2,7 persen.

Survei dilakukan 1-10 Februari 2021 dan sebanyak 16,1 persen dari 1.200 responden seluruh provinsi. Responden dipilih acak dari survei sebelumnya pada 2019. Margin of error sebesar 2,98 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Faktor menarik lain adalah terus bertahannya nama Ganjar Pranowo, gubernur Jateng, dalam sejumlah survei terkait figure capres di Pilpres 2024 mendatang. Tokoh kelahiran Kabupaten Karanganyar ini terus bertahan di posisi tiga besar. Ganjar lebih sering berada di peringkat kedua di bawah Prbowo Subianto (Partai Gerindra), dengan perbedaan sangat tipis. Tapi, kali ini Ganjar berada di peringkat ketiga di bawah Ridwan Kamil.

Di antara empat gubernur di Pulau Jawa (DKI Jakarta, Jabar, Jateng, dan Jatim), Ganjar merupakan politikus yang positioning politik kepartaiannya sangat tegas. Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini, menjadi aktivis dan politikus PDIP sejak awal terjun di dunia kepartaian.

Ganjar yang pernah dua periode duduk sebagai anggota DPR RI dikenal sebagai politikus intelektual dan cerdas di partai kaum Nasionalis Soekarnoisme ini.

Di sisi lain, tiga gubernur lain di Pulau Jawa memiliki latar belakang berbeda-beda. Ridwan Kamil dikenal sebagai profesional di bidang arsitektur dan tata kota. Anis Baswedan adalah aktivis dunia pergerakan masyarakat, pendidik, dan intelektual yang tak terjun sebagai aktivis partai tertentu. Anis tak pernah bergabung dengan satu partai mana pun.

Sedang Khofifah lama berkecimpung di dunia ormas Islam Muslimat NU, satu ormas kewanitaan terbesar di Indonesia, dengan jaringan akar rumput bersifat otonom dan sangat kuat.

“Muslimat NU dan Aisyiyah Muhammadiyah adalah dua ormas kewanitaan paling kuat di Indonesia. Keduanya memiliki akar di bawah yang tertanam dalam dan saling mengikat. Gerakan ormas ini otonom dan bersifat bottom up,” tegas KH Salahuddin Wahid, pimpinan Pondok Tebuireng, pada satu kesempatan kepada penulis.

Sebagai politikus kaum Nasionalis yang cemerlang dan duduk sebagai Gubernur Jateng selama dua periode, Ganjar Pranowo memiliki kapasitas komunikasi sangat cair, informal, merangkul, dan membangun trust kepada publik.

Nyaris semua ruang komunikasi publik, baik media mainstream maupun media sosial (Medsos), didayagunakan Ganjar semaksimal mungkin. Sehingga Ganjar menjadi tokoh politik yang populer dan memiliki jutaan followers.

Gayanya memimpinnya jauh dari kesan kaku. Tak seperti kebanyakan birokrat produk lama yang lebih menonjolkan watak teknokratik administrator, Ganjar mampu menampilkan diri sebagai pemimpin yang memiliki keluwesan tinggi untuk bercakap-cakap dengan rakyat dan membuat siapa pun yang berinteraksi dengan dia terasa nyaman. Tentu konten komunikasinya dibumbui dengan guyonan khas ala Ganjar.

Ganjar meraih gelar Magister Ilmu Politik (M.IP) dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta inheren dengan tipologi pemimpin birokrasi modern. Dia tak mau terjebak dalam kungkungan protokol dan regulasi birokrasi yang kaku dan lamban.

Dengan gayanya yang menggedor dan mengebrak kultur birokrasi kuno (lamban dan berbelit-belit), langkah dan policy Ganjar selama jadi orang pertama Jateng menginspirasi banyak kalangan. Ganjar pribadi yang unik, cerdas, dan nyeleneh.

Sebelum duduk sebagai Gubernur Jateng, Ganjar cukup lama berkiprah di DPR RI, khsususnya di Komisi Pemerintahan dan Pemerintahan Dalam Negeri. Karena itu, dia tak mudah terjebak dengan sindrom The Plague of Flattery. Istilah itu dikemukakan politisi Italia, Niccolo Machiavelli. Maksudnya, pemimpin jangan mudah terbuai dengan sanjungan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sanjungan dan input yang umumnya bersifat ABS (Asal Bapak Senang), penuh pujian, nyaris menghilangkan kontrol dan kritik konstruktif.

Dengan rambutnya yang khas: putih dan raut wajah ekspresif, sosok Ganjar gampang dikenal publik. Anak kelima dari enam saudara, pasangan Pramuji dan Sri Suparmi, beruntung masuk PDIP yang secara historis jadi kekuatan strategis dan terbesar di lanskap politik Jateng.

PDIP memiliki paralelisme historis, politik, sosiologis, dan kultural dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), kekuatan politik yang tampil sebagai pemenang di Pemilu 1955 di Jateng. Tak mengherankan di setiap Pemilu Orde Reformasi (1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019), PDIP selalu menang di Jateng, termasuk di Pemilu 2009 saat terjadi Gelombang Biru: Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu.

Tapi, di Jateng PDIP mampu mempertahankan posisinya di tempat pertama dan Demokrat tak mampu menggesernya.

Memakai jargon “Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi”, Ganjar merebut kursi petahana sebagai Jateng Satu (Gubernur) dari tangan Letjen Purn Bibit Waluyo, mantan Pangdam IV/Diponegoro, Pangdam Jaya, dan Pangkostrad.

Sebagai penantang Bibit Waluyo, Ganjar mengandalkan modal politik kebersihan karirnya di jalur politik. Integritas pribadinya jadi taruhan. Selain tentu dukungan mesin politik partainya: PDIP, yang memiliki jaringan kuat di massa akar rumput dan menyejarah di lapisan sosial masyarakat Jateng.

Istilahnya, pejah gesang nderek Bung Karno (mati hidup ikut Bung Karno). PDIP identik dengan Bung Karno, Presiden RI pertama dan pendiri PNI pada 1927 di Kota Bandung. Positioning kepartaian menguntungkan Ganjar dalam kontestasi Pilgub Jateng 2013 dan 2018.

Di Pilgub Jateng 2018, Ganjar berpasangan dengan Taj Yasin, politikus PPP anak KH Maemun Zubair, tokoh NU dari Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, yang dikenal sebagai tokoh spiritual dan sentral PPP. Mbah Mun, panggilan akrab KH Maemun Zubair, memiliki pengaruh politik kuat di kalangan Islam Tradisional dan kaum santri di Jateng dan Indonesia.

Duet Ganjar-Taj Yasin merepresentasikan kekuatan Nasionalis-Religius di Jateng. Pasangan ini menang atas duet Sudirman Said-Ida Fauziyah yang didukung Partai Gerindra, PKB, dan sejumlah partai lain. Popularitas dan elektabilitas Ganjar yang tinggi dibuktikan dengan keunggulan selisih suara yang berkisar 3 juta lebih di atas Sudirman Said.

Ganjar bukan tipologi pemimpin konservatif. Gebrakan pada perilaku birokrasi yang lamban, berwatak kuno, dan birokart yang memegang teguh prinsip ‘kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah’, terus digelorakan Ganjar. Baginya saru bagi seorang birokrat melakukan pungutan liar (Pungli). ASN model seperti itu sebaiknya dipecat saja.

Lahir pada 28 Oktober 1968, di Kabupaten Karanganyar, Jateng, dalam beberapa waktu terakhir ini Ganjar menjadi politikus PDIP populer dan diperhitungkan terkait dengan isu bakal kandidat presiden Pilpres 2024. Tentu hal itu tak lepas dari laporan hasil survei sejumlah lembaga yang kredibel dan berintegritas.

Masalahnya, di internal PDIP bukan hanya Ganjar yang berpeluang dijagokan masuk bursa Pilpres 2024 nanti. Ada nama Puan Maharani, Ketua DPR RI, anak Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang juga disebut-sebut bakal running di kontestasi politik 2024 nanti.

Puan bukan sekadar anak biologis Megawati-Taufik Kiemas, namun sekaligus anak ideologis yang tampak dipersiapkan, diberikan kesempatan politik untuk makin matang di lapangan politik praktis. Puan lama duduk di kursi DPR RI, pernah menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), dan kini jadi Ketua DPR RI.

Di sisi lain, Ganjar menjadi figur politik yang garis ideologinya cukup panjang dengan partai kaum Nasionalis Soekarnoisme ini. Sejak kuliah di UGM, Ganjar aktif di GMNI, organisasi ekstrakampus yang memiliki relasi sejarah, politik, sosiologis, dan kultural sangat panjang dengan PNI dan PDIP.

Ganjar tak pernah pindah haluan politik dengan bermigrasi ke parpol lain. Ibaratnya, sampai gepeng pun tetap banteng. Ganjar masuk, aktif, dan istiqomah di PDIP. Wadah politik ini sejalan dengan hati nurani dan mimpinya untuk membesarkan PDIP di kandang tradisionalnya: Jateng dan tentu Indonesia.

Punya latar sebagai aktivis politik tulen PDIP, memangku jabatan Gubernur Jateng dengan tingkat demografi politik besar: sekitar 27 juta pemilih, adalah poin keuntungan politik bagi Ganjar. Perspektif memahami pemilih Jawa jangan sekadar membaca jumlah konstituen yang berada dan bertempat tinggal di Pulau Jawa.

Lebih dari itu. Banyak konstituen bersuku Jawa yang berada di luar Pulau Jawa. Ikatan psikologi politik dan kultural itu seringkali tetap berpengaruh pada political choice pemilih di kontestasi politik nasional, seperti di Pileg dan Pilpres.

Diaspora orang-orang Jawa di luar Pulau Jawa menjadi faktor penting yang tak bisa dinafikan dalam menderek suara kandidat presiden. Dalam konteks ini, Ganjar sangat diuntungkan secara politik, mengingat Jateng dipandang sebagai sentralnya Jawa. [air/bersambung]

Penulis adalah Penanggung jawab beritajatim.com dan Ketua PWI Jatim



Apa Reaksi Anda?

Komentar