Politik Pemerintahan

NU dan Pilkada Jember (5)

Alumnus Annuqoyah Pendukung Kiai Muqiet akan Berlabuh ke Mana?

Wabup Abdul Muqiet Arief (foto: Humas Pemkab Jember)

Jember (beritajatim.com) – Salah satu faksi kekuatan sosial politik Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jember, Jawa Timur, adalah alumnus pondok pesantren dari Madura. Mereka dihormati dan pernah punya peran besar untuk memenangkan pasangan Faida dan Abdul Muqiet Arief dalam pemilihan kepala daerah 2015.

Faksi yang paling terkenal adalah faksi Bani Itsbat, yakni kalangan pondok pesantren yang berafiliasi dengan keturunan Kiai Itsbat di Madura. Kendati berlatarbelakang nahdliyyin, Bani Istbat dikenal sebagai kelompok NU yang dekat dengan kalangan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ini tak lepas dari sejarah politik umat Islam di Indonesia.

Tahun 1940-an, seluruh kelompok Islam di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Perti, dan lain-lain sepakat untuk bersatu dalam payung politik besar bernama Masyumi. Namun jelang pemilu 1955, sebagian besar tokoh NU memilih untuk pecah kongsi dan mendirikan partai sendiri. Namun masih ada sejumlah ulama NU yang memilih tetap berada di bawah payung Masyumi.

Beberapa nama ulama dari kalangan Bani Itsbat adalah Kiai Abduh di Kecamatan Tempurejo, KH Baidowi Said, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Gading, Kecamatan Bangsalsari, KH Lutfi Ahmad di Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Ra Ali di Suger, dan KH Thoyib Syarif di Kemuning. Tokoh-tokoh Bani Itsbat dekat dan sangat dihormati oleh MZA Djalal, bupati Jember periode 2005-2010 dan 2010-2015.

Di luar Bani Itsbat ada beberapa alumnus pondok pesantren luar Jember. Namun dalam urusan politik pilkada, yang terang-terangan sudah membuktikan kekuatan jejaringnya adalah Ikatan Alumni Pondok Pesantren Annuqoyah (IAA) Madura.

Anggota IAA di Eks Karesidenan Besuki berjumlah lima ribu orang, tiga ribu orang di antaranya berada di Jember. Sebagian dari mereka sudah mendirikan 33 pesantren dan madrasah sendiri. Wakil Bupati Abdul Muqiet Arief adalah mustasyar IAA di Eks Karesidenan Besuki. Dalam pilkada 2015, IAA menjadi mesin pemenangan yang efektif bagi pasangan Faida-Abdul Muqiet Arief dan membuat Kecamatan Silo sebagai penentu kemenangan pasangan tersebut.

Kali ini mereka menunggu keputusan pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah untuk menentukan pilihan politik dalam pilkada Jember. “Karena Jember kota santri, saya berharap ada pemimpin yang peduli terhadap pondok pesantren,” kata Ketua IAA Karesidenan Besuki Muhammad Muslim.

Namun yang jelas, menurut Muslim, mayoritas anggota IAA tak mau lagi mendukung Bupati Faida. Mereka berharap ada perubahan di Jember. “Cuma insya Allah mayoritas dari alumni mengharapkan ada perubahan di Jember. Kami berharap ada pemimpin yang lebih baik,” katanya, Selasa (15/9/2020).

Bagaimana dengan Muqiet yang masih ikut mengantarkan Faida saat pendaftaran pilkada ke KPU Jember? Muslim menegaskan, itu tak terkait dengan IAA dan merupakan keputusan pribadi Muqiet. Mereka menunggu keputusan pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah untuk menentukan pilihan politik dalam pilkada Jember. “Kalau diizinkan secara terbuka, saya akan menyatakan dukungan terbuka kepada salah satu pasangan calon. Kalau tidak, saya akan minta petunjuk dari kiai (Abdul A’la),” kata Muslim.

Rencananya, IAA akan menggelar musyawarah cabang pada 11 Oktober 2020. “Mudah-mudahan tidak ada perubahan,” kata Muslim.

IAA sendiri memiliki kriteria bupati Jember. Menurut Muslim, pemimpin harus memberikan kemanfaatan kepada umat tanpa terjebak dalam favoritisme. “Dia juga harus mampu menjalankan birokrasi dengan baik, dan yang terpenting dari semua itu, karena Jember kota santri, saya berharap ada pemimpin yang peduli terhadap pondok pesantren,” katanya.

“Siapapun yang nantinya akan kami dukung harus menandatangani kontrak politik dengan IAA untuk kepedulian terhadap pesantren. Kira-kira pesantren di Jember mau diapakan. Jumlah pesantren di Jember lebih dari enam ratus pesantren. Rata-rata santrinya bervariasi, ada yang di atas seratus orang dan ada yang di atas seribu orang,” kata Muslim.

“Mayoritas generasi muda di Jember menjalani pendidikan pesantren. Jadi kalau ada bupati yang tidak peduli terhadap pendidikan pesantren, sama saja membiarkan pendidikan generasi muda untuk masa yang akan datang,” kata Muslim. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar