Politik Pemerintahan

Alokasi Pupuk Bersubsidi di Banyuwangi Hanya Cukup Sebulan

GM Pemasaran PSO PT Pupuk Kaltim (tengah) menyerahkan pupuk kepada salah seorang petani di dampingi oleh Wakil Ketua DPRD Banyuwangi Michael Edy Haryanto (kanan). (rin)

Banyuwangi (beritajatim.com) – General Manager Pemasaran PSO PT Pupuk Kaltim Muhammad Yusri menyebut, jumlah pupuk bersubsidi menipis. Hal ini seiring penggunaan dan penyaluran pupuk bersubsidi mengalami penurunan alokasi segnifikan dari tahun ke tahun.

“Penyaluran bersubsidi alokasi penurunan segnifikan pada 2017 dan 2018 masih 9,5 juta ton, tetapi pada tahun 2019 turun menjadi 8,9 juta ton, dan untuk tahun 2020 turun 7,9 juta ton. Ini artinya penyaluran alokasi pupuk bersubsidi ini dari tahun ke tahun selalu turun,” katanya usai melakukan panen demplot padi di Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Sabtu (11/7/2020).

Bahkan Yusri menyebut, penyaluran pupuk bersubsidi ini semakin lama akan hilang. Sehingga dengan terpaksa, petani harus siap beralih menggunakan pupuk non subsidi.

“Petani harus siap nanti beralih ke pupuk non subsidi,” terangnya.

Khusus Banyuwangi, kata Yusri, jumlah alokasinya tinggal sedikit. Dirinya menyebut, saat ini ketersediaan pupuk bersubsidi itu hanya sekitar 5000 ton.

“Secara nasional penyaluran turun, maka otomatis untuk alokasi di propinsi dan daerah pasti juga akan turun. Di Banyuwangi pada tahun 2018 lokasi 68 ribu ton, 2019 58 ribu ton dan 2020 hanya sisa 38 ribu ton,” ungkapnya.

Dari jumlah itu, lanjut Yusri,  realisasi pupuk di Banyuwangi sudah mencapai 33 ribu ton, jadi tinggal sekitar 5000 ton. Padahal masih ada masa tanam 5 bulan ke depan.

“Sehingga jika ini tidak ada tambahan maka alokasi di Banyuwangi akan habis pada pertengahan Agustus. Kalau saya lihat dari data beberapa alokasi dari sejumlah kecamatan alokasi sudah ada yang habis. Jika alokasinya habis, maka produsen dan kios tidak bisa menjual pupuk bersubsidi,” terangnya.

Yusri mengatakan, hal ini yang belakangan banyak menyebut adanya kelangkaan pupuk di tingkat petani. Namun, dirinya menyatakan itu lantaran beberapa faktor salah satunya jumlah alokasi yang menurun.

“Jadi mohon maaf kalau ada yang bilang sekarang pupuk langka hilang di pasaran. Tapi sebaiknya lihat dulu apa sebabnya. Kebanyakan itu alokasinya habis atau petaninya belum gabung ke RDKK sehingga tidak mendapat kuota pupuk bersubsidi,” ucapnya.

Pihaknya berharap dalam waktu dekat ada realokasi pupuk bersubsidi. Sehingga mengurangi kekhawatiran langkanya pupuk bagi petani di Jawa Timur.

“Dari kementerian dan produsen telah berusaha mengotak-atik anggaran agar dapat tambahan realokasi pupuk bersubsidi antar provinsi,” pungkasnya. (rin/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar