Politik Pemerintahan

Almarhum Caleg PKB Dicoblos 21 Ribu Orang, Ini Penjelasannya

Doktor Muhammad Iqbal

Jember (beritajatim.com) – Dosen komunikasi Universitas Jember Muhammad Iqbal menilai, kemenangan suara almarhum calon legislator Partai Kebangkitan Bangsa Miftahul Ulum dalam pemilu 2019 seharusnya dimaknai positif.

“Terutama sebagai bentuk edukasi politik kepada pemilih untuk memilih ‘caleg pilihan’ bukan ‘caleg editan’. Atau bukan memilih ‘caleg baliho’ tetapi lebih memilih ‘caleg yang terbukti jago’,” kata Iqbal kepada beritajatim.com, Jumat (26/4/2019).

Ulum mendapat kurang lebih 21 ribu suara. Berdasarkan hasil rekapitulasi sementara Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember, perolehan suara partai untuk pemilihan DPRD Jatim di kabupaten tersebut mencapai 135.192 suara. Sekitar 15,96 persen di antaranya disumbangkan oleh Ulum.

Iqbal mengatakan, secara rasional para pemilih sangat mungkin memilih Ulum karena memiliki informasi yang relatif cukup atau memadai, hasil dari rekam jejak kiprahnya semasa hidup. “Aspek rasional ini didukung faktor sosiologi politik, yaitu sangat jelas terjadi pengelompokan sosial berdasarkan karakteristik masyarakat Nahdliyin di dapil yang telah mengenal betul sosok Cak Ulum,” jelasnya.

Namun Iqbal menyebut faktor psikologis adalah faktor dominan yang paling kuat melambungkan suara Ulum. “Pemilih memang tergolong sebagai loyalis partisan. Karisma Cak Ulum semasa hidup telah menjelma dalam top of mind para pemilih,” kata alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini.

Peran PKB sebagai mesin politik juga tak boleh diremehkan. “Ikatan kesetiaan itu tidak akan menjadi suara yang diberikan di bilik TPS jika tidak digerakkan oleh tim sukses mesin partai,” kata Iqbal.

“Pada titik inilah, secara sosiologi politik, tim sukses dan mesin PKB sangat sadar betul pada regulasi pemilu: bahwa kandidat yang wafat tapi masih tercantum dalam daftar surat suara tetap dihitung sah dan suaranya akan menjadi suara untuk partai. Maka, sangat mungkin timses secara sah dan wajar akan merawat ikatan kesetiaan masyarakat pada kandidat,” kata Iqbal.

“Timses bisa jadi akan bergerak menggunakan human touching atau sentuhan personal di basis-basis dukungan Cak Ulum semasa hidupnya. Kalkulasinya sederhana: hasil perawatan pada kantong suara ini jelas akan menjadi suara partai, yang mungkin dalam masa kampanye, partai berjanji untuk melanjutkan seluruh nilai-nilai perjuangan Cak Ulum di Jawa Timur,” tambah doktor lulusan Universitas Indonesia ini.

Para caleg dengan perolehan suara di bawah Ulum ikut menangguk keuntungan. “Pastinya, di pundak caleg terpilih tersebut telah bertengger sejumlah amanah untuk terus istikomah memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan kesejahteraan rakyat yang selama ini diperjuangkan oleh Cak Ulum,” kata Iqbal.

Iqbal mengacu pada tiga model perilaku pemilih untuk menganalisis fenomena itu: model pilihan rasional, model sosiologis, dan model pilihan psikologis.

“Teori pilihan rasional Anthony Downs, mengasumsikan bahwa individu mempunyai pemahaman yang jelas tentang apa yang ia inginkan sebagai sebuah outcome. Artinya, individu diasumsikan mempunyai informasi cukup yang memungkinkan menjatuhkan pilihan tersebut,” kata Iqbal.

“Berikutnya, model sosiologis yang dikembangkan Universitas Colombia di Amerika. Intinya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku pemilih,” kata Iqbal.

Sementara Michigan Model yang dikenal sebagai pendekatan psikologis, menjelaskan adanya keterikatan atau dorongan psikologis yang membentuk orientasi politik seseorang. “Ikatan psikologis tersebut disebabkan ada perasaan kedekatan dengan partai atau kandidat. Persepsi dan penilaian individu terhadap kandidat atau rekam jejak yang diperjuangkan sangat berpengaruh terhadap pilihan pemilu,” kata Iqbal. [wir/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar