Politik Pemerintahan

Alhamdulillah.. Warga Miskin Banyuwangi Mayoritas Tercover JKN KIS

Banyuwangi (beritajatim.com) – Beruntung warga miskin di Banyuwangi mayoritas tercover Jaminan Kesehatan Nasional, Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Seperti yang terlihat di Dusun Krajan, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu.

“Saya sehat, tapi terkadang ada keluhan darah saya tinggi, sering pusing,” ucap Sumiyah, Senin (31/8/2020).

Nenek berusia 83 tahun itu biasanya datang ke Puskesmas Gendoh setiap bulan. Tapi, selama pendemi dia mengurungkan niatnya.

“Sudah dua bulan saya tidak ke Puskesmas, katanya ada virus. Saya takut, jadi di rumah saja,” ungkap Ibu tiga anak tersebut.

Alasan lain yang membuat hajatnya terganggu, yaitu kondisi fisiknya. Karena meski mengaku memiliki tiga anak, tapi semuanya sudah meninggal di saat masih kecil.

“Naik sepeda tidak bisa, di rumah sendirian. Tidak ada yang mengantar,” katanya dengan logat using (bahasa tradisional Banyuwangi) yang kental.

Ceritanya miris. Nenek yang telah tiga kali berganti pasangan ini juga hanya bisa berpangku tangan ke tetangga dekat. Nasib, bungsu dari lima bersaudara ini juga kian terjepit, lantaran semua saudara sejadi sejalan mendahuluinya.

“Dulu saya masih bisa kerja jualan makanan. Sekarang tidak. Kadang dapat makan dari tetangga, uang juga di kasih dari tetangga yang saya anggap saudara,” terangnya.

Di rumah sederhana ukuran 3×4 meter di tengah permukiman padat penduduk, dirinya bernaung. Rumah dan tanah yang dibelinya dengan susah payah, kini sebagai teman.

“Rumahnya belum jadi, baru dapat bantuan dari Pak tentara,” katanya.

Sempit, sesak di ruangan itu. Tidak ada sumur, ataupun kamar mandi untuk sekedar membasuh muka. Hanya ada satu kamar, ruang tamu berukuran mungil dan dapur yang bersinggungan dengan tempat tidur.

“Syukur tetangga semuanya baik,” tuturnya.

Siang itu, Sabtu (29/8/2020) dua petugas medis dari Puskesmas Gendoh menghampiri rumahnya. Tampak riang wajahnya, nampak sudah mengetahui niat kedua pemuda berhazmat tersebut.

“Oalah, Pak Lukman. Monggo teng nggriyo (Silakan masuk rumah),” sapa Nenek yang memiliki panggilan Bu Sum itu.

Benar saja ada perawat dari Puskesmas Gendoh bernama Lukman dan Budi Wahono. Petugas medis itu masuk dan duduk di kursi kecil di ruang tamu. Mengambil alat tensi serta stetoskop.

“Mbah, ada kartu BPJS-nya. Saya periksa nggeh. Terakhir, darahnya diperiksa berapa mbah? Sehat kan mbah?,” ucap Lukman yang tampak akrab.

Sambil menunjukkan kartu JKN-KIS, Mbah Sum juga mengulurkan lengannya. Lipatan pembalut sintetis dipasang, dan mulailah alat tensi bekerja.

“Agak tinggi mbah 160, istirahat nggeh. Nanti dikasih obat diminum sampai habis. Kalau habis nanti minta lagi ke Puskesmas,” ucapnya.

Usai memeriksa Mbah Sum, dua surveilans itupun berkemas. Mereka akan pindah ke rumah warga berikutnya.

“Matur nuwun, untung dapat obat gratis, diperiksa juga gratis. Sampean semoga dikasih kesehatan ya,” ucap Mbah Sum.

Menerabas lorong sempit di dekat rumah Sumiyah, terselip pasien berikutnya. Keluhannya nyaris sama.

“Saya ada asam lambung, dan tensi darah,” ungkap Misrani.

Setali tiga uang, nasib nenek ini nyaris sama dengan Mbah Sum. Tinggal sendiri, di tengah keterbatasan punya segudang penyakit pula.

“Pak Sami’i (suaminya) sudah tiga tahun meninggal karena sakit. Saya tinggal sendiri. Punya anak satu ikut suaminya di Bali. Sudah setahun tidak pulang. Kemarin hari raya juga tidak pulang karena Corona,” katanya.

Beda dengan Sumiyah, Ibu Misrani bersuara lirih. Apalagi memakai masker penutup mulut dan hidung. Terdengar sesekali batuk-batuk.

“Tiga hari ini agak meriang, batuk dan pilek,” katanya.

Tapi usai diperiksa petugas medis, Dia tampak sumringah. Karena, tak perlu berfikir soal obat.

“Alhamdulillah, semoga lekas sembuh. Nggak pernah beli obat, paling kalau pusing dan sakit perut saja saya beli di toko. Kalau darah tinggi, dan lain-lain saya menanti dari mas-mas ini datang. Kalau nggak saya yang ke sana,” katanya.

Selama ini, Misrani mengaku tidak ada keluhan mengenai obat yang diberikan. Justru cenderung sangat membantu.

Dia bercerita, asalmu asal JKN-KIS yang digenggamnya. “Saya didata Pak RT, kemudian dikasih kartu berobat ini dari balai desa,” katanya.

Selama mendapat kartu sakti itu, Misrani tak pernah menghitung berapa kali menggunakannya. Tak pernah pula menghitung berapa biaya yang dikeluarkan.

“Saat sakit langsung datang ke Puskesmas Gendoh. Dua bulan terakhir tidak datang ke sana, karena kata tetangga ada Corona, saya kan takut. Tapi Alhamdulillah mas-mas sudah datang,” ungkapnya.

Memang selama pandemi, petugas medis kerap jemput bola ke rumah warga. Terutama pada pasien yang masuk kategori usia renta.

“Ya, mereka masuk pasien Prolanis, Program Pengelolaan Penyakit Kronis. Kita memang memutuskan untuk mendatangi mereka, karena selain usia juga pandemi Covid 19 yang tidak memungkinkan bagi mereka harus datang. Usia mereka rentan dan berisiko,” kata Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Puskesmas Gendoh, Sukidi.

Saat ini, kata Sukidi, pelayanan juga cukup mudah. Karena warga bisa menggunakan aplikasi via WhatsApp atau handphone mereka.

“Nggak perlu kesulitan, tinggal menggunakan hape saja. Kalau memang tidak ada hape, ada kader yang biasanya memberi tahu kemudian kami yang meluncur ke sana,”

Sukidi mengakui, kerbatasnya petugas menjadi salah satu kendala dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Sehingga mau tidak mau, Puskesmas setempat juga memaksimalkan peran informasi warga.

“Kita punya yang namanya kader kesehatan, itu yang bisa kita andalkan. Kalau ada laporan, misal di RT 3 ada pasien batuk pilek, petugas langsung menuju lokasi. Setiap hari jumlahnya relatif, ada 5 atau 4 orang. Meskipun lokasinya di pelosok kita datangi,” terangnya.

Mengenai administrasi juga cukup mudah. Apalagi ada kartu JKN-KIS yang menjamin mereka.

“Warga tinggal menunjukkan kartu tersebut, caranya cukup mudah sekali. Pokoknya kita layani dengan maksimal,” jelasnya.

Perlakuan selama pandemi dan sebelum ada virus memang berbeda. Bedanya, petugas harus mematuhi protokol kesehatan secara menyeluruh. Bagitu pun pasien.

“Yang jelas kita terus waspada dan berhati-hati dalam berkegiatan di tengah pandemi ini. Petugas memakai APD lengkap. Sekaligus memastikan warga untuk selalu mematuhi peraturan di era New Normal,” katanya.

Diakui, selama virus corona menyeberang ke Bumi Blambangan, banyak warga yang enggan periksa kesehatan ke Puskesmas Gendoh. Agaknya khawatir dan takut, sehingga lebih memilih di rumah saja.

“Dari datanya memang turun, selama Covid 19 ini,” kata Sukidi.

Data yang tertera di bagian administrasi, jumlah kunjungan menurun. Terhitung sejak Januari hingga Agustus 2020.

Rinciannya, pada Januari sebanyak 1055, Februari 1226, Maret 1187, April 729 warga. Kemudian terlihat penurunan jumlah kunjungan pada Mei sebanyak 446 warga. Disusul pada Juni 828, Juli memasuki New Normal naik 868 orang dan Agustus sebanyak 662 orang.

“Ya, selama pandemi petugas medis kita instruksikan lebih intens mendatangi warga terutama pasien Prolanis yang berisiko. Meski demikian, tidak ada pengecualian pelayanan. Kami semua layani sama,” pungkasnya. [rin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar