Politik Pemerintahan

Aktivis 98 Turut Berduka Atas Meninggalnya Fotografer Senior Yuyung Abdi

Foto Aksi Mahasiswa tahun 1998 karya Yuyung Abdi

Surabaya (beritajatim.com) – Meninggalnya fotografer senior, Yuyung Abdi, tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga ataupun sesama para fotografer. Namun duka juga dirasakan para aktivis 98 yang saat runtuhnya era orde baru ke era reformasi, Yuyung Abdi sering mengabadikan momen-momen aksi para aktivis 98 di lapangan saat demonstrasi.

Salah seorang aktivis 98 yang merasa kehilangan itu adalah Kusnan. Menurut dia, Yuyung merupakan fotografer jurnalistik yang memiliki karya foto yang sangat fenomenal. Utamanya saat awal periode reformasi.

Sebelumnya perlu diketahui, Yuyung Abdi fotografer senior yang pernah bekerja di Jawa Pos 1995-2019 meninggal dunia pukul 09.00 WIB pada, Selasa (16/2/2021), setelah mendapat perawatan intensif di RS Unair.

“Mas Yuyung sudah menjadi fotografer sejak 1995. Saat runtuhnya orde baru, mahasiswa sering menggelar aksi demo. Disana Mas Yuyung berani di posisi paling depan agar mendapat foto jurnalistik yang bagus. Bahkan saat demo itu terjadi kerusuhan, dia berani diantara pendemo dan pihak keamanan. Tentu kondisi itu paling rawan. Tapi itu dilakukan agar dapat memotret keadaan sesungguhnya saat terjadi bentrokan saat demonstrasi,” ujar Kusnan, saat dikonfirmasi, Selasa (16/2/2021).

Kusnan mengatakan, semangat, loyalitas dan dedikasinya Yuyung bisa menjadi contoh fotografer lainnya. Apalagi, di tengah kesibukannya sebagai fotografer jurnalistik dia bisa menuntaskan pendidikan formal hingga jenjang doktor.

“Saya bisa membayangkan bagaimana sibuknya Yuyung. Ya bekerja ya kuliah. Tapi itu bisa dilalui dengan baik. Itu membuktikan bahwa sesibuk apapun profesi kita, jangan melupakan pendidikan. Semangatnya inilah yang perlu dicontoh para fotografer lainnya,” kata Kusnan.

Ucapan duka juga disampaikan aktivis 98 lainnya, Didik Prasetiyono yang saat ini menjabat Direktur Operasi PT SIER. Didik mengenal seniornya di Unviersitas Airlangga (Unair) itu sejak era reformasi. Saat Didik dan kawan-kawannya menggelar aksi, Yuyung selalu ada diantara aksi itu untuk mengabadikan momen tersebut.

“Sebelum sakit, saya sempat menjalin kerjasama dengan Yuyung dengan menjadikannya juri lomba foto dalam rangka HUT PT SEIR. Yuyung orangnya sangat ramah, total dalam bekerja dan dihormati sesama rekan jurnalis karena integritas dan dedikasinya dalam berkarya. Sesama alumni Unair, kami sangat merasa kehilangan. Semoga almarhum mendapat tempat paling mulia disisi-Nya, diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya, Aamiin,” ujar Didik.

Nama Yuyung Abdi sudah tidak asing bagi kalangan fotografer di Indonesia, khususnya yang menggeluti fotografi jurnalistik. Setelah lebih dari 24 tahun berkarya di Jawa Pos, Yuyung mendedikasikan dirinya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi.

Selain banyak membuahkan karya foto jurnalistik, Yuyung juga kerap menjadi juri lomba foto, menjadi pembicara di berbagai seminar atau workshop fotografi, bahkan telah membuahkan beberapa buku fotografi.

Seperti Lensa Manusia (2004), Sex for Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia (2007), Surabaya Cantik (2010), Photography from My Eyes (2012), Traveling Photography (2013) dan Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia (2019). Bee Jay Bakau Resort: Mengubah Sampah Jadi Emas (2019). (tok/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar