Politik Pemerintahan

Mengenal Anarkisme (4-Habis)

Aksi Kaum Anarkis: Mulai dari Mogok Sampai Kuasai Pabrik

foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Alexander Berkman dalam buku ABC of Anarchism mengatakan, kaum anarkis tidak memonopoli kekerasan. Sebaliknya, ajaran-ajaran anarkisme adalah kedamaian dan harmoni, kesakralan hidup dan kebebasan.

Namun sejarah mencatat perjuangan kaum anarkis di sejumlah tempat diwarnai kekerasan. Tahun 1993, pertempuran antara kelompok-kelompok masyarakat sipil dengan petugas kepolisian terjadi di Seattle, Amerika Serikat. Kelompok-kelompok masyarakat sipil bersatu memprotes Organisasi Dagang Dunia (World Trade Organization) yang menggelar pertemuan di sana. Battle of Seattle.

Ketegangan terjadi setelah segerombolan massa anarko-sindikalis berbaju dan berbendera hitam melakukan serangkaian aksi vandalisme. Mereka merusak toko-toko dan sejumlah fasilitas publik, menyerang polisi dengan bom molotov.

Kaum anarkis juga tidak segan-segan menggunakan aksi pemogokan massal buruh sebagai bagian dari taktik perjuangan. Joseph Schumpeter dalam buku Capitalism, Socialism and Democracy menyatakan, ‘anarko-sindikalisme menarik bagi insting pekerja dengan menjanjikan penaklukan tempat kerja, penaklukan oleh kekerasan fisik, pada akhirnya oleh pemogokan umum’.

Paruh Mei 1886 di Amerika Serikat, 190 ribu buruh, 80 ribu di antaranya di Chicago, melakukan aksi mogok nasional. Aksi buruh besar-besaran terjadi di kota itu pada 1 Mei yang kelak dirayakan setiap tahun sebagai Hari Buruh Internasional.

Tahun 1917, Revolusi Rusia ditandai dengan pemogokan umum dan aksi penguasaan pabrik-pabrik oleh buruh secara spontan. Berawal dari St. Petersburg, sepanjang 1919-1921, aksi mogok berkembang di sejumlah kota besar di Rusia, termasuk Moskow. Para pekerja menuntut kebutuhan roti dan kebebasan, berarak-arak dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk menutupnya dan menarik massa buruh lebih besar lagi.

Tahun 1936, para pekerja kereta api di Spanyol melakukan aksi mogok menuntut nasionalisasi. Aksi ini juga dilakukan buruh-buruh di sektor lainnya di Madrid, Barcelona, terutama Valencia. Mereka turun ke jalan, membuat barikade, dan berhadapan dengan tentara yang dikerahkan rezim Jenderal Franco.

Kaum sosialis menyebut anarkisme sebagai ‘chaos and disorder’. Kekacauan dan ketidakteraturan. Nicholas Walter, dalam buku About Anarchism, menyebut kekerasan sebagai sisi kelam anarkisme. “Stereotipe kaum anarkis yang membawa sebuah bom di bawah jubah mereka sudah berusia lebih dari seabad, tapi masih kuat,” katanya.

“Banyak kaum anarkis yang menyetujui kekerasan, sebagian menyetujui pembunuhan tokoh publik, dan beberapa yang bahkan menyetujui terorisme untuk membantu penghancuran sistem yang ada,” tulis Walter.

Namun, menurut Ruth Kinna dalam Anarchism: A Beginner’s Guide, ada perbedaan pendapat di antara para tokoh anarkisme sendiri terkait penggunaan kekerasan. Kelompok yang setuju menilai kekerasan tak terelakkan sebagai bagian mekanisme pertahanan menghadapi represi negara.

Kinna menyebut kekerasan itu sebagai pertahanan pragmatis. Kekerasan ini memiliki tujuan dan perlu dilakukan, serta tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan. “Individu melakukan kekerasan terutama lebih dikarenakan dorongan untuk berbuat sesuatu terhadap penindasan dan eksploitasi (negara) yang dilihat di sekitar mereka,” katanya.

Penganut anarkisme yang menyetujui aksi kekerasan berasal dari sejumlah negara yang memiliki sejarah dan tradisi kekerasan oleh massa rakyat atas nama kebebasan, seperti di Prancis, Amerika, dan revolusi di Inggris. Mereka juga bisa ditemui di negara-negara endemi politik kekerasan, seperti Spanyol, Italia, dan Rusia.

Mereka yang menolak kekerasan menilai, perusakan tidak ada gunanya. Aksi kekerasan atau vandalisme juga hanya akan membuat gerakan itu direpresi negara. Negara juga dengan gampang menjadikan gerakan kaum anarkis kambing hitam jika terjadi kekerasan yang merugikan publik.

Para pelaku perusakan atas nama anarkisme dicurigai lebih tertarik dengan urusan artifisial dan remeh-temeh seperti pemakaian topeng gas, ikat bandana, dan baju hitam ketimbang taktik perjuangan.

“Kekerasan, berlawanan dengan keyakinan yang populer di tengah masyarakat, bukanlah bagian dari filosofi kaum anarkis. Para pemikir anarkisme menunjukkan bahwa revolusi tidak akan dimenangkan atau masyarakat anarkis tak akan terbentuk dan bertahan, dengan menggunakan kekerasan bersenjata,” kata Vernon Richards dalam buku Lessons of the Spanish Revolution. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar