Politik Pemerintahan

Akibat Pandemi, Stok Beras Jatim Aman, Hanya Terkendala Distribusi!

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo menegaskan, pandemi Covid-19 tidak berpengaruh pada produksi pangan di Jatim. Kendala selama pandemi Covid-19 bukan terletak pada produksi pangan, namun akan tetapi pada distribusi baik dalam provinsi maupun luar provinsi.

Untuk itu, pihaknya mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, kemudian Dinas Perhubungan dan kepolisian. “Kami meminta kendaraan yang digunakan untuk distribusi pangan diberikan pengecualian, agar kondisi pangan bisa berjalan lancar,” katanya kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (1/6/2020).

Menurut dia, stok beras di Jatim mengalami surplus. Namun, menurutnya hanya terkendala pada distribusi pangan. “Kontribusi beras untuk nasional sebesar 17 persen. Posisi Jatim berada dibawah Jawa Barat, sama-sama 17 persen, hanya berbeda koma saja,” ujarnya.

Hadi mengatakan stok padi Jatim hingga bulan Desember mendatang sebanyak 10,3 juta ton, sedangkan stok beras 6,7 juta ton. Sementara untuk konsumsi hanya 4,3 juta ton. “Ini artinya masih mengalami surplus 2,4 juta ton,” katanya.

Untuk produksi jagung di Jatim hingga Desember mendatang mencapai 8 juta ton. Dari jumlah tersebut, untuk konsumsi hanya 122.000 ton dan untuk pakan ternak 2,4 juta ton. “Yang defisit adalah kedelai. Jumlah produksi hingga Desember hanya 144.641 ton, sedangkan konsumsi 447.912 ton. Sehingga mengalami defisit 303.2672 ton,” paparnya.

Ia juga mengaku bersyukur karena pada musim hujan kemarin tidak ada yang mengalami gagal panen atau puso. Menurutnya untuk menghadapi musim kemarau, pihaknya menyiapkan cadangan benih daerah. “Kalau ada kabupaten yang mengalami puso, maka bisa mengajukan ke provinsi untuk mendapatkan bantuan benih,” jelasnya.

Selain itu, Hadi mengatakan pihaknya juga menyediakan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bekerjasama dengan Jasindo yang diperuntukkan kepada para petani. Ia berharap para petani di Jatim bisa mengikuti AUTP ini. “Asuransi ini seharusnya bayar Rp 180.000 per hektare. Namun, para petani hanya membayar Rp 36.000, sisanya disubsidi oleh pemerintah,” katanya.

Meski demikian lanjut Hadi, tidak semua petani di Jatim mengikuti AUTP. Ia menambahkan target AUTP sebanyak 280.000 hektare, namun yang ikut hanya 260.000 hektare lebih yang mengikuti AUTP. (tok/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar