Politik Pemerintahan

Air Bengawan Solo Prioritas untuk Irigasi Pertanian

Sungai Bengawan Solo di kawasan Banjarejo

Bojonegoro (beritajatim.com) – Debit air Sungai Bengawan Solo selama musim kemarau mengalami penurunan. Air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu banyak dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Termasuk diantaranya untuk irigasi pertanian, Selasa (29/10/2019).

Namun selain digunakan irigasi pertanian, aliran sungai Bengawan Solo juga dimanfaatkan untuk industri. Salah satunya, untuk kebutuhan air bersih yang dikelola PDAM juga penunjang industri minyak dan gas bumi (migas).

Ketua Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat (LBH Akar) Anam Warsito mengatakan, minimnya debit sungai Bengawan Solo selama musim kemarau membuat pengelola air sungai Bengawan Solo harus memprioritaskan kebutuhan irigasi untuk pertanian.

Hal itu, kata dia, sesuai Peraturan Pemerintah nomor 121 tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air (SDA). Dalam aturan tersebut, irigasi untuk pertanian disebutkan sebagai prioritas pertama dan sektor swasta merupakan prioritas terakhir yang mendapat alokasi air Bengawan Solo.

“Itu sudah jelas, tertuang Pasal 5 ayat (3) poin A petani sebagai prioritas pertama dan poin G swasta sebagai prioritas terakhir,” ungkap Anam Warsito.

Sebelumnya, pejabat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini debit sungai kondisinya kritis. Apalagi ditambah banyaknya pompa irigasi milik petani yang berjumlah ratusan tidak berizin. Banyaknya pompa irigasi ini sehingga mempengaruhi debit sungai lebih kritis.

“Kami imbau kepada masyarakat petani atau himpunan petani pengguna air untuk mengajukan izin pemanfaatan air. Kita sudah sediakan blangko rekomendasi gratis,” ujar Petugas Operasi dan Pemeliharaan (OP) 4 BBWS Bengawan Solo, Hidayat, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Menanggapi pernyataan itulah sehingga mantan Anggota DPRD Bojonegoro itu kemudian menyatakan sikap. Apalagi, lanjut dia, para petani terpaksa harus menggeser letak pompa air lebih kebawah untuk menjangkau air Bengawan Solo yang debitnya semakin kecil.

Anam mengatakan, beberapa waktu yang lalu para petani sempat melakukan rencana mengadu ke DPRD agar pintu air bendung gerak dapat dibuka sehingga padi mereka tidak gagal panen. “Ini kok malah menyalahkan petani, dan seakan-akan membela swasta,” tegasnya.

Sementara, salah satu industrialisasi migas yang memanfaatkan air dari Sungai Bengawan Solo yakni Lapangan Banyu Urip Blok Cepu yang dioperatori ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL). Juru bicara EMCL, Rexi Mawardijaya mengatakan, pemanfaatan air Bengawan Solo untuk penunjang pengeboran migas itu mengikuti aturan yang berlaku.

“Terkait pemanfaatan air sungai Bengawan Solo untuk kebutuhan proses produksi kami mengikuti aturan yang berlaku,” jelasnya.

Aturan yang dipatuhi dan diikuti EMCL yakni merujuk AMDAL dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Saat ini pengambilan air Bengawan Solo diberhentikan karena debit air sudah di bawah batas yang ditentukan. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar