Politik Pemerintahan

8 Faktor Kemenangan Eri-Armuji Versi Hitung Cepat Menurut SSC

Surabaya (beritajatim.com) – Menurut hasil hitung cepat 4 lembaga survei, pasangan Eri Cahyadi-Armuji dapat dikatakan sudah memenangkan Pilwali Surabaya. Keempatnya adalah Surabaya Survey Center (SSC), Charta Politika, Populi Center dan Poltracking di Pilkada Kota Surabaya 2020. Kisaran angkanya pun tidak berjauhan. Pasangan Eri Cahyadi – Armuji disebut unggul atas pasangan Machfud Arifin – Mujiaman di angka 13-15%.

Menurut Mochtar W Oetomo, Direktur SSC, setidaknya ada tujuh faktor yang melatarbelakangi kemenangan Eri Cahyadi – Armuji. “Pertama, Surabaya basis tradisional PDIP. Meski ada faksi-faksi dalam tubuh PDIP Surabaya, faktanya soliditas kader-kader PDIP yang sudah mendarah daging sulit untuk digoyahkan. Sikap gotong royong yang sudah menjadi naluri di tubuh PDIP otomatis menggelora dan menggelinding dalam konteks tertentu yang diperlukan,” ujarnya.

“Kedua, Faktor Risma sebagai endorser utama pasangan Erji adl faktor kemenangan yg tdk bisa disangkal. Tingkat kepuasan masyarakat surabaya pd risma yg melebihi 90% menjadikan strategi transfer device Erji dengan menggunakan pengaruh Risma, terbukti jitu dan efektif. Surat Risma dan video ajakan Risma di detik akhir jelang coblosan kian menguatkan strategi ini,” lanjut Mochtar.

Video viral soal hancurkan Risma, menurut pria yang juga akademisi di Universitas Trunojoyo Madura ini, menjadi faktor ketiga dibalik keunggulan Eri Cahyadi – Armuji. “Ketiga, Blunder video hancurkan Risma. Viral video ini justru sangat menguntungkan Erji karena lahirnya simpati publik utamanya dari kalangan emak-emak. Bahkan swing voters MAJU diindikasikan banyak berpindah ke Erji karena berbagai blunder yang dilakukan oleh tim Maju,” paparnya.

“Keempat, tim dan relawan yang lebih ramping dan efektif. Dengan hanya didukung oleh PDIP dan PSI, tim Erji jauh lebih militan dan efektif, serta lebih simple dan fokus dalam berbagai koordinasi, konsolidasi dan mobilisasi. Berbeda dengan begitu banyaknya partai pendukung Maju yang membuat segala koordinasi, konsolidasi dan mobilisasi mjd lebih kompleks, hingga menimbulkan banyak resiko faksionalitas dan uncoordinated. Hingga munculnya kasus video hancurkan Risma,” urai Mochtar lebih lanjut.

Kelima, menurut Mochtar, Eri jadi sosok paling pembeda diantara 4 kandidat yang ada. “Paling muda dan good looking dan relatif terlihat paling memahami dan menguasai tata kelola pemerintahan Surabaya dengan background-nya sebagai ASN pemkot dan Kepala Bappeko,” katanya.

“Keenam, debat publik yang menunjukkan penguasaan data dan masalah pada pasangan erji jauh lebih komprehensif dibanding Maju sedikit banyak memberi andil pada pergerakan swing voters, karena pemilih Surabaya relatif lebih rasional,” tambah Mochtar.

Ketujuh, Mochtar menilai jika pemilih Surabaya yang relatif rasional dan well informed tidak mudah dipengaruhi dengan berbagai opini, jargon, slogan, informasi hoax, bahkan sembako dan uang. “Pemilih rasional dan well informed cenderung information seeking, berusaha mencari sendiri informasi tentang para kandidat melalui berbagai sumber informasi sehingga pemilih ini memiliki preferensi yang mencukupi untuk menentukan pilihannya,” tegasnya.

“Kedelapan, simbolisasi dan dukungan Nahdliyin. Pasangan Erji mampu mengawinkan simbolisasi ideal Nasionalis-Religius dengan berhasilnya Eri Cahyadi menampilkan simbolisasi dirinya sebagai Nahdliyin. Baik melalui ziarah ke berbagai makam, istighosah, pengajian maupun dia penutup saat debat publik kedua. Disamping itu dukungan jejaring NU di level kota juga menjadi faktor yang tentu tidak bisa diabaikan begitu saja,” pungkas Mochtar. [ifw/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar