Politik Pemerintahan

7 Fakta Unik di Balik Nomor Urut dalam Sejarah Pilkada Jember

Jember (beritajatim.com) – Sejak pemilihan kepala daerah digelar dengan model pemilihan langsung (popular vote) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 2005, pengundian nomor urut menjadi salah satu prosesi yang dinantikan para kandidat dan pendukung mereka.

Dari tahun ke tahun, pengundian nomor urut dilakukan dalam rapat pleno terbuka yang digelar Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember di salah satu hotel. Setiap pasangan calon bupati dan wakil bupati selain didampingi anggota tim pemenangan, juga mendapat dukungan dari ‘tim hore’ yang bersorak-sorak memberikan semangat.

Situasi berbeda terjadi dalam pengundian tahun ini. Tak ada sorak-sorai pendukung. Pandemi Covid membuat tak ada satu pun pendukung dan penggembira yang hadir. Masyarakat mengikuti melalui siaran langsung stasiun televisi lokal.

Acara itu digelar dengan mengikuti protokol kesehatan. Selain diikuti oleh tiga pasangan calon, rapat pleno anya diikuti komisioner KPU, perwakilan Badan Pengawas Pemilu Jember, dan satu orang penghubung dari masing-masing calon. Satu orang tamu adalah komisioner KPU Jatim Miftahur Rozaq.

Namun tetap ada pernik-pernik unik di balik nomor urut pasangan calon bupati dan wakil bupati dalam pilkada di Jember. Berikut catatan beritajatim.com.

1. Dalam sejarah pilkada 2005-2015, pasangan kandidat dengan nomor urut 1 tidak pernah berhasil menang, yakni Samsul Hadi Siswoyo – Baharuddin Nur (2005), Moh. Sholeh – Dedy Iskandar (2010), dan Sugiarto – Dwi Koryanto (20150

2. Sementara pasangan dengan nomor urut 2 sudah dua kali menjadi pemenang pilkada, yakni MZA Djalal – Kusen Andalas pada 2005 dan Faida – Abdul Muqiet Arief pada 2015.

3. Jumlah pasangan kandidat bupati dan wabup pada pilkada tahun ini sama dengan pilkada tahun 2005, yakni tiga pasang.

4. Pilkada 2005, petahana Samsul Hadi Siswoyo tidak lagi berpasangan Bagong Sutrisnadi seperti pada Pilkada 2000, namun menggandeng Baharuddin Nur. Pilkada 2020, Faida tidak menggandeng wabup sebelumnya Abdul Muqiet Arief, namun menggandeng Dwi Arya Nugraha Oktavianto.

5. Berdasarkan pengundian pilkada tahun 2005, nomor urut 1 adalah petahana Samsul Hadi Siswoyo yang berpasangan dengan Baharuddin Nur, diikuti MZA Djalal – Kusen Andalas pada nomor urut 2, dan Machmud Sardjujono – Hariyanto pada nomor urut 3. Saat itu, Samsul ditumbangkan MZA Djalal dan Machmud berada di peringkat ketiga perolehan suara.

Pilkada tahun ini, petahana Faida yang berpasangan dengan Oktavianto mendapatkan nomor urut 1, diikuti Hendy Siswanto – Muhammad Balya Firjaun Barlaman pada nomor urut 2, dan Abdus Salam – Ifan Ariadna Wijaya pada nomor urut 3.

6. Nomor urut 1 selalu menjadi milik kandidat bupati petahana, kecuali tahun 2010. Tahun 2005, Samsul Hadi Siswoyo mendapat nomor urut 1. Tahun 2015, Sugiarto yang sebelumnya adalah sekretaris daerah Jember mendapat nomor urut 1. Tahun 2020, giliran Bupati Faida yang mendapat nomor urut 1.

7. Selain identik dengan petahana, nomor urut 1 juga identik dengan kandidat perseorangan atau independen. Tahun 2010, pasangan kandidat bupati dan wakil bupati jalur perseorangan, Moh. Sholeh dan Dedy Iskandar, mendapat nomor urut wahid. Sepuluh tahun kemudian giliran Faida – Oktavianto yang juga berangkat dari jalur perseorangan yang mendapat nomor urut 1. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar