Politik Pemerintahan

6 Rumah Ibadah Berdampingan Perkuat Tingkat Toleransi Antarumat Beragama di Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Sebuah proyek rumah ibadah di perumahan Royal Residence Wiyung, Surabaya, semakin memperkuat betapa besarnya tingkat toleransi antar umat beragama di Kota Pahlawan.

Sebanyak 6 tempat ibadah, dibangun berdampingan meliputi masjid, gereja Kristen Katolik, Kristen protestan, kelenteng, vihara, dan pura.

Indra Prasetya, Ketua Forum Komunikasi Rumah Ibadah (FKRI) mengatakan, sebelumnya warga muslim perumahan menginginkan dibangun sebuah masjid di dalam komplek perumahan dengan alasan untuk ibadah salat 5, karena lokasi masjid terdekat cukup jauh.

Kemudian atas dasar itu, pihak developer memenuhi keinginan warga perumahan dengan memberikan sebidang tanah untuk nantinya dibangun tempat ibadah. Namun, agar tidak terjadi kesenjangan, pihak developer justru menginginkan tidak hanya masjid yang dibangun, tapi rumah ibadah lainnya pun bisa dapat dibangun.

“Pihak developer bilangnya gini, ya kalau gitu sekalian dibangun semuanya, jangan cuma masjid, tanahnya yang di sebelah Sutet,” ujar Indra, Senin (22/07/2019).

Setelah itu, masing masing dari 6 tokoh perwakilan agama, melakukan diskusi dan pertemuan sehinga disepakatilah pembangunan tempat ibadah secara berdampingan.

Menurutnya Indra, dana pembangunan masing masing tempat ibadah berasal dari warga perumahan karena pihak developer hanya menyediakan tanah saja. Warga mengumpulkan dana secara swadaya dengan mencari sumbangan.

“Warga bertanggung jawab untuk pembangunan. Ada juga sebagian dari penyumbang. Bahkan ada yang dapat sumbangan dari pemerintah kota, dan pemerintah provinsi juga,” ungkap Indra.

Pembangunan sudah mulai sejak 2017, dan sekarang baru 3 yang dapat difungsikan yakni masjid, gereja Kristen Katolik, dan Kristen protestan. Sisanya seperti kelenteng, vihara dan pura, masih dalam proses pengerjaan.

Atas dasar hal tersebut, dibentuklah sebuah wadah diskusi yakni FKRI dan Indra kebetulan dipilih sebagai ketua. Forum tersebut dibentuk semata untuk menghindari adanya gesekan gesekan sosial yang bisa saja terjadi.

Forum tersebut pula, nantinya mengatur mengenai jadwal penyelenggaraan upacara hari besar masing-masing agama mengingat jarak setiap tempat ibadah hanya 3 meter.

“Ya misalkan di gereja kristen. Katolik dan protestan ada perayaan Natal, ya diinfokan ke warga lainnya agar tidak mengadakan acara di hari itu. Hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama,” jelas Indra.

Toleransi antar umat beragama juga sangat kental disini. Contohnya, kesepakatan agar masjid tidak memakai pengeras suara di luar, tapi hanya boleh di dalam. Begitupun gereja, lonceng hanya boleh diletakkan di dalam gedung.

“Ya kami mengharapkan agar tidak sampai ada yang namanya gesekan atau perselisihan antar warga (umat beragama). Hal kecil saja contohnya saat hari Minggu, berhubung Hindu, Katolik, Kristen, Budha, dan Konghucu ibadahnya sama yakni di hari Minggu, maka jamaahnya diberi kebebasan untuk parkir sampai di halaman masjid. Untuk warga muslim, sudah kami himbau agar tidak ada kegiatan Minggu pagi, ya saling pengertian saja lah,” tutup Indra. [mfr/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar