Politik Pemerintahan

30 Tahun Tak Tersentuh Bantuan, Warga Kejawan Lor Mengadu ke Machfud Arifin

Machfud Arifin Calon Wali Kota Surabaya 2020-2024

Surabaya (beritajatim.com) – Bantuan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tak merata dan tak tepat sasaran masih sering dirasakan masyarakat kecil. Buktinya, warga Kejawan Lor RT 1 RW 2, Tiani, sudah 30 tahun lamanya mengharap bantuan dari pemerintah, nyatanya sampai saat ini bantuan itu tak pernah didapatkan.

“Selama 30 tahun saya ngak dapat bantuan apa-apa, suami saya nelayan sekarang sudah tua, dulu saya pembantu rumah tangga 18 tahun, penghasilan Rp 30 ribu sehari tapi cukup saya nikmati, anak dua dan menantu satu,” ujar Tiani saat curhat kepada Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 2 Machfud Arifin, Jumat (16/10).

Tiani mengaku, selama 30 tahun belum pernah mendapat bantuan sama sekali, baik itu BLT, MBR, dan BPJS gratis. Selama 3 tahun pernah ikut BPJS dengan iuran Rp 100 ribu selama sebulan, namun karena kondisinya semakin sulit, akhirnya tak pernah bayar lagi.

“Sudah nggak mampu bayar (BPJS) lagi, penghasilan sekarang hanya Rp 50 ribu sehari buat makan orang 5, anak saya sudah dirumahkan sejak ada covid, terus kenapa saya ngak dapat bantuan apa-apa?” terangnya.

Bantuan terdampak covid-19 dari Pemkot Surabaya tak pernah dirasakan. Padahal, keluarganya sangat terdampak, sejak covid kehidupan ekonominya semakin terpuruk. Tiani mengaku sangat kecewa dengan Pemkot Surabaya.

Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin dan Calon Wakil Wali Kota Mujiaman Sukirno

“Saya berharap ada perubahan, mudah-mudahan pak Machfud Arifin menang, saya hanya berharap ke pak Machfud dan pak Mujiaman,” ujarnya.

Ketua RT 1 Ishaq Umar menambahkan, memang ada beberapa warganya yang tidak pernah tersentuh bantuan sama sekali dari Pemkot Surabaya. Padahal, beberapa kali diajukan, namun bantuan itu tak pernah turun.

“Ada beberapa warga sini ngak pernah merasakan bantuan pemkot, padahal sudah kita ajukan, ngak tahu kenapa kok selalu dilewati,” ungkapnya.

Mendengar curhatan warga, Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 2 Machfud Arifin mengaku iba. Pemkot Surabaya belum sepenuhnya hadir pada saat masyarakat membutuhkan bantuan. Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang seharusnya mendapat bantuan tapi malah dilewati.

“Yang sering dapat itu-itu saja. Pelayanan kesehatan dan BPJS juga sama,” katanya.

Arek Ketintang Surabaya ini memandang, ke depan perlu ada perubahan sistem. Dimana butuh membangun sarana teknologi penataan dari bawah. Dimulai dari RT/RW dan kelurahan. Sehingga, dengan memanfaatkan teknologi ini, pelayanan masyarakat bisa maksimal.

“Juga terkait penanganan stunting, ini sangat erat masa di kandungan, kita harus tahu warga saya yang hamil itu harus terlacak, sama kayak covid itu, warga yang meninggal juga harus tahu supaya ngurus akte kematian ngak ribet,” ujar mantan Kapolda Jawa Timur ini.(ifw/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar