Politik Pemerintahan

26 Daerah Kering Kritis, BPBD Jatim Droping 108 Juta Liter Air Bersih

Surabaya (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim telah memberikan droping air bersih sebanyak 108 juta liter untuk 26 kabupaten (177 kecamatan dan 622 desa) di Jatim yang mengalami bencana kekeringan kritis. Hal itu berdasarkan data BPBD Jatim hingga per 30 September 2019.

Pihaknya memprediksi pada November 2019 hujan mulai merata di Jatim, sehingga daerah yang awalnya mengalami kekeringan bisa mendapatkan air.

“Sesuai analisa BMKG awal Oktober ada hujan, tapi di Malang, Lumajang, Banyuwangi. Nanti November hujan akan merata di Jatim. Puncak hujan ada di Januari 2020,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Suban Wahyudiono kepada wartawan di kantornya, Jumat (4/10/2019).

Menurut dia, indikator daerah yang mengalami kering kritis adalah persediaan air per orang per hari kurang dari 10 liter, termasuk mereka mengambil air dengan lokasi cukup jauh di atas 3 kilometer dari rumah.

“Kami telah koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota. Hingga kini, sudah sekitar 17.988 ribu rit dengan isi 6 ribu liter per tangki telah didistribusikan ke warga yang kesulitan air bersih. Totalnya mencapai 108 juta liter air,” tuturnya.

Menurut dia, kondisi daerah yang mengalami kering kritis karena faktor demografi. Mayoritas mereka tinggal di daerah dataran tinggi, sehingga saat kemarau air sulit didapat.

Proses distribusi air terus dilakukan hingga kebutuhan warga tercukupi dan hujan mulai datang. Dengan itu, masyarakat yang kekurangan air bersih bisa mencukupi kebutuhan untuk keperluan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan saat kemarau selain ancaman kekeringan, juga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, intensitas kejadian kebakaran juga cukup tinggi, dimana per satu pekan laporan yang masuk kebakaran di wilayah Jatim antara 20-23 kali. Hal ini berdasarkan laporan dari pihak Perhutani.

“Bayangkan satu pekan 20-23 kali, tapi itu bisa dipadamkan. Kalau kebakaran yang paling penting segera dipadamkan. Kebakaran hutan ini tidak kalah hebatnya,” jelasnya.

Ia mengatakan, banyak faktor yang memicu terjadinya bencana kebakaran hutan, salah satunya faktor manusia yang merokok di kawasan hutan lalu puntung rokok dibuang, membuat api unggun, hingga berburu hewan yang terkadang memakai teknik membakar ilalang.

Untuk itu, ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan potensi bencana dan tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak lingkungan. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar