Politik Pemerintahan

10 Poin Imbauan dan Panduan Bulan Ramadan di Mojokerto

Bupati Mojokerto, Pungkasiadi saat rapat koordinasi pembinaan wilayah (binwil) Kabupaten Mojokerto tahun 2020. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Untuk menyamakan persepsi terkait penanganan Covid-19 di tengah bulan suci Ramadan, Pemkab Mojokerto menggelar rapat koordinasi pembinaan wilayah (binwil) Kabupaten Mojokerto tahun 2020 dengan tema ‘Sinergitas 3 Pilar Percepatan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto’.

Rapat koordinasi binwil tersebut digelar di salah satu hotel di wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kamis (23/4/2020) kemarin, menghasilkan 10 poin. Ada 10 point imbauan serta panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H yang sudah disepakati bersama Pemkab Mojokerto bersama dengan segenap elemen terkait dan masyarakat.

1. Sahur dan buka puasa dilakukan secara individu atau keluarga inti. Tidak perlu sahur on the road atau Ifthar Jama’i (buka puasa bersama).

2. Salat tarawih dilakukan secara individu atau jamaah dengan keluarga inti di rumah.

3. Tilawah atau tadarus Al-Quran dilakukan di rumah masing-masing.

4. Buka puasa bersama baik di lembaga pemerintahan, swasta, masjid atau musala ditiadakan.

5. Peringatan Nuzulul Quran dalam bentuk tabligh yang menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah besar ditiadakan.

6. Tidak melakukan I’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan baik di masjid maupun musala.

7. Pelaksanaan salat Idul Fitri yang lazim dilaksanakan berjamaah di masjid, musala atau lapangan ditiadakan (menunggu fatwa MUI).

8. Tidak melalukan salat tarawih keliling, takbir keliling (cukup di masjid atau musala dengan memakai pengeras suara), pesantren kilat kecuali melalui media elektronik.

9. Silaturahmi atau halalbihalal hari raya, dapat dilakukan melalui media sosial atau video conference.

10. Dalam pengumpulan dan penyaluran Zakat Fitrah dan/atau Zakat Infaq dan Shodaqoh (ZIS) dilaksanakan dengan beberapa ketentuan, antara lain:

a). Dibayarkan sebelum puasa Ramadhan, sehingga terdistribusi kepada Mustahik lebih cepat.

b). Bagi organisasi pengelola zakat sebisa mungkin meminimalkan pengumpulan zakat melalui kontak fisik, tatap muka langsung, dan membuka gerai di tempat keramaian. Sebagai gantinya, dilakukan pembayaran melalui layanan jemput zakat atau transfer.

c). Organisasi pengelola zakat untuk menghindari penyaluran zakat pada Mustahik melalui tukar kupon dan mengumpulkan orang.

d). Petugas yang melakukan penyaluran zakat, agar memakai APD seperti masker, sarung tangan dan alat pembersih sekali pakai seperti tissue, sering cuci tangan menggunakan sabun atau dengan memakai hand sanitizer. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar