Peristiwa

Kisah Simon Nainggolan, Penyintas Covid-19 (2-Habis)

YNWA, Corona, dan Kado Ulang Tahun dari Tuhan

Simon Nainggolan beserta istri dan anaknya

Jakarta (beritajatim.com) – Lokadita Brahmana menatap Simon Nainggolan. Air matanya menetes melihat Simon yang menggigil dihajar demam. Hariana Sebayang, ibunda Lokadita, baru saja pergi dalam prosesi pemakaman sunyi dan menyayat hati di San Diego Hills.

“Kamu harus kuat melawan virus ini. Kamu jangan sampai menyerah. Saya tidak sanggup kehilangan lagi orang yang saya cintai setelah Mami pergi,” suara Lokadita terdengar parau di sela isak tangis. Simon merasa hancur.

Vonis itu datang pada beberapa hari kemudian. Tak hanya Simon yang dinyatakan positif mengidap Covid-19. Lokadita mengalami nasib serupa. Beruntung, anak mereka Gabriella Gaia dinyatakan negatif dari virus itu.

Lokadita tidak mengalami demam sama sekali, sehingga bisa membantu Simon menyembuhkan diri dan melewati rasa sakit yang menyiksa. Saat malam, tenggorokannya terasa sangat kering. Setiap kali terbangun, dia harus meneguk air untuk membasahi kerongkongan. Setiap hari dia bisa minum tiga liter air putih. Sementara demam membuat badan Simon terasa patah di sana-sini dan linu di persendian.

“Kamu harus bisa sembuh. Saya butuh kamu. Anak kita butuh papanya,” Lokadita selalu mengatakan itu. Setiap hari. Setiap waktu. Dan Simon mencoba menggebah semua rasa sakit itu. Demi istrinya. Demi Gabriella.

Ini memang virus yang menantang tekad kuat manusia. Setiap pukul empat pagi, Simon terbangun untuk memakan sepotong roti dan vitamin. Empat jam berselang, tenggorokannya yang terasa retak dipaksanya menerima menu sarapan yang disediakan Lokadita.

Vitamin menjadi salah satu kunci penyembuhan. Simon bisa menghabiskan dua ribu miligram vitamin C setiap hari. “Saya juga dikasih minum air rebusan daun sirih merah yang (konon ini sangat membantu melawan virus Covid-19,” katanya.

Simon berhenti menonton televisi dan mengasingkan diri dari dunia luar, dari semua berita sedih tentang Covid-19. Sebagai gantinya, hampir setiap malam dia memutar lagu ‘You’ll Never Walk Alone’ yang dinyanyikan Gerry and The Pacemakers. Lagu ini juga dikenal sebagai lagu kebangsaan klub sepak bola Liverpool yang diputar setiap kali menjelang sepak mula pertandingan. “Kata-kata di lagu itu menguatkan saya,” kata Simon.

You’ll Never Walk Alone (seringkali disingkat YNWA) memang mengabarkan optimisme, keyakinan bahwa setiap kesulitan harus dihadapi dengan berani. Setiap badai pasti berlalu.

At the end of the storm,
there’s a golden sky and the sweet silver song of a lark.
Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on
With hope in your heart
And you’ll never walk alone

Simon percaya, keajaiban akan selalu datang untuk mereka yang percaya: seperti saat Liverpool menjuarai Piala Champions 2005 setelah sempat tertinggal 0-3 dari AC Milan di babak pertama. Atau seperti saat Liverpool memangkas defisit tiga gol dari Barcelona di pertandingan semifinal Piala Champions 2019, untuk kemudian lolos ke final dan menjadi juara.

Simon menundukkan kepala, memanjatkan doa sederhana. Berulang-ulang bagaikan mantera. “Tuhan, sembuhkan saya. Beri saya kekuatan.”

Dan, Tuhan mendengarnya.

Rabu, 1 April, tubuh Simon mendadak tak lagi demam. Harapan mulai tumbuh. Dia terus gelontor tubuhnya dengan vitamin dan berjemur setiap pukul 9-10 pagi. Pelan tapi pasti, kondisi tubuhnya mulai pulih. “Saya percaya ini hadiah ulang tahun dari Tuhan,” kata pria yang lahir pada 31 Maret 1970 itu.

Senin, 6 April, Simon dan Lokadita kembali melakukan tes swap di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Hanya butuh satu hari untuk menerima kabar gembira itu. “Hasil tes swap saya dan istri dinyatakan sudah negatif. Terima kasih Tuhan, saya bisa melewati masa-masa kritis,” kata Simon.

“Buat siapapun yang sedang berjuang melawan virus ini, percayalah kesembuhan hanya menunggu waktu. Lawan dengan hati penuh syukur. Vitamin-vitamin itu terus diminum. Buat yang mulai merasakan gejala-gejala, tidak usah panik dan tidak usah menunggu tes segala macam yang belum tentu cepat prosesnya. Langsung self-isolated, minum vitamin, dan makan banyak makanan sehat,” kata Simon. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar