Peristiwa

WISH Surabaya: Jangan Hukum GA Melebihi Kesalahannya

Surabaya (beritajatim.com) – Perempuan adalah korban dari segala situasi. Kasus video artis GA dengan konten intim dan rahasia, yang tersebar ke ranah publik menjadi perbincangan tajam di akhir tahun 2020.

Melihat dari perjalanan kasus saat tersebarnya video tersebut hingga GA ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi, tentu saja ini mengundang pro dan kontra di masyarakat. Komunitas WISH (Women Incubator Solidarity and Humanity) Surabaya mengajak masyarakat untuk bijak dalam menanggapi kasus tersebut.

Marina Elisa, Ketua WISH Surabaya menyampaikan pandangannya bahwa GA hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat salah, namun sangat tidak bijak menyalahkan GA sebagai pelaku kejahatan yang utama, karena jelas dalam kasus ini pelakunya bukan seorang diri.

“Dari keterangan didapatkan bahwa GA merekam untuk kepentingan pribadi yang merupakan hak di ranah privat dan tidak untuk disebarluaskan. Penetapan GA sebagai tersangka juga memberikan preseden buruk, khususnya bagi korban perempuan dalam menghadapi kasus penyebaran video asusila,” katanya.

Tersebarnya video tersebut, menyebabkan keresahan di masyarakat. “Kita tahu inti dari permasalahan tersebut yaitu pada pelaku penyebar video yang menyebabkan kasus ini masuk ke ranah publik. Mirisnya masyarakat lebih memilih hukuman sosial jatuh pada GA dari pada fokus kepada pelaku penyebaran yang tidak mudah diketahui identitasnya dan terkesan dikesampingkan, dengan hanya menyebut jumlah pelaku tanpa inisial,” ujarnya.

Serupa dengan kasus video asusila artis yang pernah terjadi sebelumnya, pelaku penyebar bahkan hampir tidak mendapatkan sanksi sosial.

Alma Erina, Sekretaris WISH Surabaya menambahkan, bahwa hukuman sosial berlebihan dari masyarakat kepada GA, bisa mengakibatkan penilaian bebas di masyarakat awam bahwa penyebaran konten yang bersifat rahasia dan pribadi milik orang lain adalah tidak salah.

“Bahkan, dengan alasan dendam maupun sakit hati terhadap korban, dengan maksud untuk mempermalukan korban yang ada dalam video tersebut. Tentu saja hal ini harus kita hindari,” tuturnya.

Pemberitaan tentang kasus GA yang tidak memakai inisial dan tertulis namanya dengan jelas dan tegas, WISH berpendapat bahwa hal tersebut merupakan pencemaran nama baik serta perbuatan tidak menyenangkan dan tindakan ketidaksetaraan gender dalam patriaki sistem.

“Kami tetap berada dan berdiri bagi para perempuan apapun kondisinya, karena menurut kami tidak ada satupun perempuan yang ingin menjual harga dirinya. Kami selalu percaya di dalam segala keadaan tersebut, perempuan memiliki alasan yang sangat mendasar. Negara Indonesia merupakan negara hukum, selayaknya asas praduga tak bersalah wajib diterapkan kepada siapa saja,” tegas Alma Erina.

“Hukuman sosial sudah didapatkan oleh saudari GA, selayaknya kita sebagai manusia bernurani juga memahami kondisi bahwa masih ada keluarga yang tidak sepatutnya terkena imbas,” lanjutnya.

Dari kasus GA terlihat bahwa perempuan masih menjadi konten seksual, WISH mengajak masyarakat untuk menilai secara bijak dalam kasus ini serta menghentikan sanksi sosial berlebihan secara langsung maupun melalui media dan kembali fokus pada penanggulangan penyebaran konten pribadi yang tidak layak masuk ke ranah publik.

“Perempuan pun manusia, bisa menjadi tempat khilaf, alangkah bijaknya masyarakat stop menghakimi GA dan menyerahkan kasus ini kepada penyidik,” pungkas Marina Elisa. [tok/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar