Peristiwa

Warga Terdampak Banjir Bandang Selalu Was-was

Bojonegoro (beritajatim.com) – Tanah masih basah, jalanan masih dipenuhi lumpur yang juga belum kering. Kasur, bantal, beberapa perabotan rumah dicuci dan dijemur. Mereka juga ada yang melakukan kerja bakti menjemur jagung hasil panen karena terendam banjir bandang yang terjadi kemarin sore.

Ratman (45) Warga Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro sedang mendorong gerobak dorong artco berisi jagung yang sudah dimasukkan kedalam karung. Sedang beberapa perempuan yang lain bertugas meratakan jagung di terpal yang sudah di gelar di jalan kampung.

Di sela aktivitas itu, Ratman menunjuk beberapa bangunan tembok yang roboh dan rumah bekas terendam banjir bandang. Di Desa/Kecamatan Gondang sedikitnya ada 167 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam. Banjir bandang terjadi sekitar satu setengah jam. Setelah itu, air kembali surut.

“Sebelum adzan Maghrib (sekitar pukul 17.30 WIB), tembok belakang rumah Turi ini jebol, karena arus deras sekali,” ujarnya, sambil menunjuk tembok yang roboh. Tembok belakang rumah itu dengan Sungai Pacal jaraknya sekitar 200 meter, Senin (4/3/2019).

Lami (62) warga Desa/Kecamatan Gondang saat terjadi banjir bandang tidak berani di dalam rumah. Dia bersiaga dengan menggunakan tongkat dari bambu sepanjang dua meteran. Tongkat tersebut digunakan untuk menghalau sarah (sampah yang hanyut bersama arus) agar tidak masuk ke dalam rumah.

“Setiap kali banjir, warga tidak ada yang berani di dalam rumah. Mereka berjaga di depan rumah karena arusnya deras sekali dan membawa banyak sampah,” terangnya.

Rumah Lami berdinding kayu. Meski pondasinya sudah ditinggikan sekitar 40 sentimeter, namun banjir bandang masih masuk kedalam rumah. Usai banjir lantai rumahnya yang masih menggunakan tanah terlihat basah bercampur lumpur. Keesokan harinya yang panas dimanfaatkan warga untuk bergotong royong menjemur perabotan terkena banjir.

Semua warga yang berada di Desa Gondang, khususnya di Lor Kali (sebutan warga setempat) sudah terbiasa dengan bencana banjir bandang. Desa mereka sudah menjadi langganan banjir bandang saat musim hujan. Tahun ini saja, banjir bandang sudah terjadi dua kali. Sehingga naluri untuk menyelamatkan diri dan barang berharga mereka sudah terbentuk sendirinya.

“Desa juga tidak pernah melakukan pendidikan bencana. Kesadaran itu tumbuh bersama bencana yang sering terjadi. Dari naluri sendiri untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.

Di Desa Gondang, Lor Kali ada sekitar 337 kepala keluarga (KK). Namun dari jumlah tersebut yang paling sering terdampak banjir bandang ada sekitar 167 KK. Menurut Kepala Dusun Gondang, Masriwati, setiap rumah di desanya sudah banyak yang ditinggikan pondasinya. Selain itu, warga juga membangun slup atau tanggul penahan air yang bisa dibongkar pasang di pintu rumah.

Namun, warga yang membangun slup itu tidak banyak. Hanya sebagian besar rumah yang sudah berlantai keramik. “Sekarang sudah ada yang memasang slup untuk menanggul air agar tidak masuk ke dalam rumah,” ungkapnya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar