Peristiwa

Warga Beramai-ramai Simpati Kepada Mistun, Si Pembangun Pagar yang Tutup Jalan Tetangganya

Puluhan warga bersimpati kepada Mistun. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Puluhan warga Dusun Sawahan Desa Gandu kepuh Kecamatan Sukorejo beramai-ramai memberi dukungan moral kepada Mistun. Warga setempat yang memutus akses jalan tetangganya yakni Widodo dengan pagar.

Warga simpati kepada Mistun, sebab jalan yang selama ini diklaim merupakan jalan desa, nyatanya merupakan tanah milik pribadi keluarga Mistun.

“Dulu jalan ke rumah Mistun ini ada pagar dari pohon, waktu warga memperbaiki diingatkan oleh Almarhum Pak Toiran (Bapaknya Mistun) kalau itu tanah miliknya,” kata Nurcahyo, salah satu tetangga, Rabu (29/7/2020).

Warga mempermasalahkan kejelasan tentang jalan rumah tangga tersebut. Setelah ada permasalahan ini, tiba-tiba itu menjadi jalan desa. Kalau memang menjadi jalan desa, warga menilai seharusnya ada arsip baik milik desa atau Mistun terkait pengalihan status jalan tersebut.

“Ini Bu Mistun, arsip pengalihan itu tidak dikasih. Setelah ada permasalahan ini tau-taunya jadi jalan desa,” katanya.

Terkait keputusan dari Pengadilan Negeri (PN) yang memutuskan untuk membongkar pagar yang dibangun oleh Mistun itu, warga mempersilahkan pihak desa untuk membongkarnya. Bu Mistun, kata Nurcahyo sebagai warga negara yang baik, patuh pada putusan PN tersebut.

“Kami dan Bu Mistun tidak akan memboikot perobohan pagar ini, kami patuh pada putusan pengadilan. Yang kami pertanyakan adalah mengapa jalan rumah tangga ini, tiba-tiba menjadi jalan milik desa,” pungkas Nurcahyo.

Diberitakan sebelumnya, masalah sepele antar tetangga di Ponorogo, membuat salah satu pihak menjadi kesulitan keluar masuk ke rumahnya sendiri.

Itulah yang dialami keluarga Widodo, warga Desa Gandukepuh Kecamatan Sukorejo. Akses utama jalan menuju rumahnya itu terhalang oleh bangunan pagar setinggi 1 meter yang dibangun tetangganya, yang bernama Mistun. Sehingga Widodo dan anggota keluarga lainnya harus melewati gang sempit atau melompat pagar tetangganya tersebut jika ingin keluar rumah.

“Perselisihan antar tetangga ini sebenarnya dipicu oleh masalah sepele,” kata Kepala Desa Gandukepuh Suroso.


Rumah milik Widodo yang akses jalannya tertutup pagar. (Foto/Endra Dwiono)

Suroso menceritakan awalnya Widodo membangun rumah menghadap halaman rumah Mistun. Sebelum perselisihan terjadi, keluarga Widodo menggunakan halaman rumah Mistun sebagai akses keluar masuk.

Namun, kotoran ayam yang dipelihara oleh Widodo menjadi biang awal permasalahan penutupan akses jalan itu terjadi.

“Jadi ayam peliharaan Widodo, berkeliaran ke halaman rumah Mistun. Itu diklaim Mistun kerap buang kotoran di halaman rumahnya,” katanya.

Itulah yang jadi alasan Mistun untuk membangun pagar yang menutup akses jalan ke rumah Widodo sejak tiga tahun lalu. Bahkan perselisihan tersebut sampai ke pengadilan. Widodo menggugat Mistun yang memagari akses ke rumahnya itu. Putusan keluar dari Pengadilan Negeri (PN) Ponorogo tiga bulan lalu, yang dimenangkan oleh Widodo.

Menurut Suroso, putusan pengadilan itu mengacu pada peta desa. Dimana sebagian halaman rumah Mistun itu, berubah menjadi jalan setelah ada bangunan rumah Widodo dan lainnya. Berdasarkan putusan itu, Suroso akan segera melayangkan surat peringatan kepada Mistun. Untuk membongkar pagar dan memberi akses jalan ke rumah Widodo. (end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar