Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Wabah PMK yang Menyerang Hewan Ternak Terdeteksi di Lamongan

foto/dok

Lamongan (beritajatim.com) – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak kembali ditemukan usai dinyatakan bebas wabah PMK pada 1986. Bahkan, kali ini kasus PMK tersebut telah terdeteksi positif di Kabupaten Lamongan.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Kabag Prokopim Pemkab Lamongan Arif Bachtiar. Menurutnya, kasus PMK telah terdeteksi di 6 desa di 3 kecamatan yang ada di Lamongan.

Arif juga menyebut bahwa PMK diperkirakan telah masuk ke Kecamatan Tikung pada 27 April 2022. Hal ini berdasarkan masa inkubasi maksimum dan analisa deskriptif dari hasil surveilans, penyidikan dan pengujian sampel.

“Dari analisa itu, mengindikasikan bahwa penyakit menular yang diduga PMK telah masuk Lamongan. Hal ini sesuai dengan definisi wabah menurut UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2014 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan,” ujar Arif dikonfirmasi wartawan, Minggu (8/5/2022).

Menyikapi hal tersebut, Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Lamongan sudah melakukan sejumlah langkah. “Langkah awal yang sudah dilakukan di antaranya pelacakan dan pengujian. Lalu melakukan komunikasi dan edukasi ke peternak untuk menahan ternak yang sakit untuk tidak dijual. Serta pengobatan simtomatik dan supportif pada kasus ini terutama untuk menenangkan peternak agar tidak menjual ternak dan menunjukkan sapi tersebut bisa sembuh,” paparnya.

Tak cukup itu, Arif juga mengatakan, kerjasama lintas sektoral pada tingkat desa sampai kabupaten untuk mengatasi permasalahan wabah PMK ini terus digalakkan. “Pemkab Lamongan telah mengeluarkan Perbup dan SE Bupati Lamongan untuk membatasi lalulintas ternak dan penutupan sementara Pasar Hewan di Tikung dan Babat, yang kemudian dikirimkan ke Camat dan Kepala Desa/Lurah di seluruh Lamongan,” bebernya.

Lebih lanjut, Arif menegaskan, Pemkab Lamongan juga telah berusaha untuk mencegah masuknya peternak baru pada pemerintahan desa yang belum terjangkit penyakit. Sedangkan pada pemerintahan desa yang sudah terjangkit, Pemkab telah melakukan pencegahan terhadap keluarnya ternak yang sakit.

Juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menjual ternaknya karena panik. “Dalam hal ini pemerintahan desa bekerjasama dengan tenaga kesehatan hewan melakukan tata laksana kasus dengan pengobatan ternak yang sakit dan mengedukasi peternak,” tambahnya. [riq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar