Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Wabah PMK di Ponorogo, Pengunjung Pasar Hewan Jetis Turun 70 Persen

Pasar Hewan Jetis terlihat lengang akibat adanya wabah PMK di Ponot. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkiti hewan ternak, khususnya sapi tidak di Ponorogo, tidak membuat pasar hewan di bumi reog tutup. Pasalnya, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo belum membuat kebijakan penutupan pasar hewan.

Salah satu pasar hewan yang masih buka di Kecamatan Jetis. Pasar hewan yang terbesar di Ponorogo itu, hari ini masih buka. Meskipun masih buka, jumlah sapi yang diperdagangkan mengalami penurunan jika dibandingkan sebelum adanya wabah PMK.

“Belum ada instruksi penutupan pasar, jadi hari ini pasar hewan Jetis masih buka,” kata Penanggungjawab Pasar Hewan Jetis, Giyanto, Sabtu (5/6/2022).

Meskipun masih dibuka, hewan sapi yang diperdagangkan berkurang. Pengurangan atau penurunan jumlah pengunjung dan penjual sapi terjadi sejak adanya kasus PMK menjangkiti Kabupaten Ponorogo. Penurunannya pun sangat tajam, hingga kini sudah mencapai 70 persen, dibandingkan hari biasa sebelum ada PMK.

“Pasar masih buka, tapi keadaannya sepi. Sejak ada PMK di Ponorogo, penurunan pengunjung maupun penjual sapi mencapai 70 persen,” katanya.

Belum ditutupnya pasar hewan juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Peternakan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, Masun. Dia menjelaskan bahwa Pemerintah Pusat membagi kawasan sebaran PMK menjadi 4 kategori. Yakni, daerah wabah, tertular, terduga, dan bebas. Sedangkan penutupan pasar hewan hanya diwajibkan bagi kabupaten/kota yang kategori daerah wabah. Di Provinsi Jatim, pasar hewan yang ditutup meliputi Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. Daerah itulah yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai daerah wabah.

“Kalau kategori daerah wabah, pasar hewan wajib ditutup. Ya seperti yang terjadi di Lamongan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. Nah, kalau untuk Kabupaten Ponorogo termasuk kategori daerah tertular, jadi masih dibuka,” katanya.

Namun, untuk melakukan pembukaan pasar hewan dapat dilakukan asal menerapkan biosekuriti. Yakni sebuah upaya pertahanan pertama untuk mencegah penularan maupun kontak antarternak. Yakni salah satunya dengan melakukan sterilisasi dengan disinfektan.

“Salah satu antisipasi persebaran PMK, yakni melakukan penyemprotan disinfektan,” katanya.

Namun, opsi penutupan hewan di daerah tertular bisa saja dilakukan. Hal itu jika ada opsi dari rekomendasi pejabat otoritas veteriner (oto-vet) setempat. Pejabat inilah yang akan melakukan kajian dan merekomendasikan terkait aktivitas pasar hewan.

“Kalau masih bisa buka, tentu rekomendasinya dengan pengetatan yang ekstra,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar