Peristiwa

Dialog Publik PWI dan Universitas Jember

Universitas Jember: Program Ambulans Desa Bagus, Tapi Tidak Tepat

Jember (beritajatim.com) – Masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan, angka kematian balita, dan angka gizi buruk di Kabupaten Jember, Jawa Timur, disoroti oleh ┬áLembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember.

Kabupaten Jember menduduki peringkat pertama untuk jumlah kematian ibu dan bayi di Jawa Timur pada tahun 2020. Ada 61 kasus kematian ibu saat melahirkan dan 324 kasus kematian bayi di Jember.

Sementara itu, prevalensi stunting atau gizi buruk di Kabupaten Jember pada 2019 adalah 37,94. Jember berada di peringkat ketiga prevalensi stunting tertinggi di Jawa Timur. Peringkat pertama adalah Kabupaten Probolinggo dengan prevalensi 54,75 dan Kabupaten Trenggalek dengan prevalensi 39,88.

Ketua LP2M Unej Achmad Subagio mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Bupati Faida saat menjabat pada 2016-2021. “Salah satunya adalah adanya ambulans di tiap desa. Itu cara yang luar biasa untuk menyelesaikan ini. Tapi cara itu juga tidak tepat,” katanya, dalam acara dialog publik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Universitas Jember, di DPRD Jember, Kamis (4/3/2021).

“Kenapa begitu? Karena ternyata angka (kematian) yang terjadi tidak mengalami penurunan, tapi bergeser tempat meninggalnya dari rumah ke rumah sakit. Artinya, kondisi si ibu ketika hamil dan kondisi si bayi ketika masih dalam kandungan sudah jelek di awal,” kata Subagio.

Subagio mengatakan, ada persoalan di lingkungan masyarakat. Namun ia tak berani membuka data yang dimiliki LP2M Unej kepada publik. “Karena implikasinya sangat besar,” katanya. Ia memilih memberikan langsung data-data itu kepada Bupati Hendy Siswanto sebagai bahan pertimbangan mengambil dan mengeksekusi kebijakan.

“Ada persoalan lingkungan yang menyebabkan bayi selama dalam perut si ibu sudah ada problem. Sehingga cacat bawaan sangat besar jumlahnya di Jember. Ini yang menjadikan kemudian bayi itu hanya pindah saja meninggalnya dari rumah ke rumah sakit. Persoalan mendasar ini harus diselesaikan. Kami siap membantu,” kata Subagio. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar