Peristiwa

Tumenggung Satim Singomoyo, Mualaf Pertama Tokoh Masyarakat Majapahit

Makam Temanggung Satim di Komplek Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Kompleks Makam Troloyo, kompleks pemakaman Islam jaman Kerajaan Majapahit ini berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mempunyai luas sekitar 3,5 acre atau 152 ribu kaki persegi. Setidaknya terdapat 19 nama yang dimakamkan di Komplek Makam Troloyo.

Selain ada Makam Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro atau yang biasa disebut Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro yang merupakan punjer (pusat) Wali Songo, juga ada Makam Tumenggung Satim Singomoyo. Beliau yang membantu Syekh Jumadil Kubro dalam penyebaran agama Islam.

Tumenggung Satim Singomoyo merupakan salah satu tokoh masyarakat pada jaman Kerajaan Majapahit yang sudah memeluk Agama Islam. Beliau adalah orang yang selalu membantu Sayyid Jumadil Kubro dalam mengembangkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak bermusyawarah.

Yakni tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Saat itu, beliau telah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Tumenggung Satim Singomoyo memiliki isteri bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.

Dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, maka sedikit demi sedikit masyarakat Kerajaan Majapahit akhirnya memeluk agama Islam. Dalam penyebarannya agama Islam di tanah Jawa juga ibantu dengan dua orang santri Raden Husen (Sayid Chusen) dan Immamuddin Sofari.

Raden Husen yang pada masa itu sebagai pengarep atau imam dan immamuddin Sofari sebagai pengurus jenasah bagi warga islam yang meninggal. Ketika perang dengan kerajaan Keling Daha Jenggala Kediri yang dipimpin Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Tumenggung Satim Singomoyo wafat sebagai syuhada’.

Beliau dimakamkan di Komplek Makam Troloyo, satu Lokasi dengan makam Sayyid Jumadil Kubro di sisi kiri. Makam beliau diberi tanda tanaman pohon jati. Namun setelah pohon jati itu besar tumbuhlah pohon aspak dan pohon beringin. Hingga sekarang pohon tersebut masih hidup.

“Tumenggung Satim Singomoyo yang membantu perjuangan Syekh Jumadil Kubro. Beliau merupakan mualaf pertama. Tumenggung Satin Singomoyo yang memberikan jalan dan memperkenalkan dengan tokoh-tokoh bangsawan Majapahit,” ungkap Juru Kunci Komplek Makam Troloyo, Arifin, Senin (19/4/2021).

Karena merubah kepercayaan orang tidak mudah sehingga Syekh Jumadil Kubro mengalami kendala dan kesulitan. Karena saat itu, Kerajaan Kerajaan Majapahit dikenal kepercayaan agama Hindu. Tumenggung Satim Singomoyo memiliki peliharaan seekor harimau.

“Sehingga beliau diberi gelar Singomoyo. Ada sumur peninggalan beliau di sisi barat, sumur itu memiliki kedalaman 5 meter. Alhamdulillah tidak pernah kering. Mesin diesel penyedot air saja tidak bisa menghabiskan airnya, sumur tua ini tidak pernah kering,” katanya.

Sumur itu dipergunakan Tumenggung Satim Singomoyo untuk membasuh wajah atau berwudhu. Sebelah sumur tua itu ada kolam kecil sebagai tempat minum harimau peliharaan Tumenggung Satim Singomoyo. Sumur tua tersebut diyakini memiliki banyak khasiat dan memberi berkah bagi mereka yang meminumnya.

“Ada pula yang mempercayai, jika meminum air sumur tinggalan ini bisa memiliki ketenteraman batin. Dengan keyakinan, lantaran dari sumur itu opo sing dadi keluhan e isok dadi tentrem e ati. Lantaran lho yo, bukan dari sumur itu lho ya (Dengan keyakinan karena sumur itu apa yang jadi keluhan bisa menjadi hati tentram. Karena keyakinan tapi bukan dari sumur itu ya, red),” tegasnya.

Makam Tumenggung Satin Singomoyo dirawat dan bersihkan Mbah Sayuti. Ia meneruskan merawat dan membersihkan Makam Tumenggung Satin Singomoyo setelah sang suami meninggal. Setiap hari ia meneruskan pekerjaan suaminya dan sore hari akan dijemput cucunya. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar