Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Tradisi Keduk Mbrumbung, Wujud Syukur Warga Lamongan Secara Turun Temurun

Para masyarakat sekitar Sendang Brumbun yang melakukan tradisi Keduk Brumbun, Senin (27/9/2021), hari ini.

Lamongan (beritajatim.com) – Sebagai bentuk syukur atas anugerah sumber mata air panas, masyarakat sekitar sendang Mbrumbung yang berada di Dusun Tepanas Desa Kranji Kabupaten Lamongan ini menggelar kegiatan bersih-bersih yang biasa disebut dengan Tradisi Keduk Mbrumbung, Senin (27/9/2021).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Kranji, H Husnul Wafiq ST mengungkapkan, bahwa tradisi bersih-bersih ini memang biasa digelar setiap tahunnya, tepatnya pada bulan September. Selain bersih-bersih pada Senin pagi ini, menurutnya, para warga setempat juga mengadakan serangkaian kegiatan berupa khotmil quran dan istighosah yang telah dimulai sejak Minggu (26/9/2021) kemarin.

“Tradisi ini digelar secara turun temurun, masyarakat sekitar membersihkan mata air di sendang Mbrumbun dari kotoran-kotoran dan sisa-sisa lumpur belerang. Hal itu dalam rangka memperlancar sumber air yang keluar, juga untuk gotong royong dan wadah silaturahim untuk warga, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas pemberian mata air Mbrumbung ini,” ungkap Kades Husnul Wafid kepada beritajatim.com.

Lebih lanjut, Husnul Wafiq mengatakan, bahwa pembangunan wisata air panas Mbrumbung ini dialokasikan dari Dana Desa yang ada. Tak hanya itu, Husnul Wafiq mengaku, selama ini Mbrumbung juga telah mendapatkan kucuran dana dari Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Jawa Timur, bahkan juga ada sokongan yang datang dari Pemerintah Pusat.

“Sebagian besar dialokasikan dari Dana Desa. Tahun ini, kurang lebih juga ada Rp 500 juta yang masuk ke Mbrumbung. Kami akan menambahkan beberapa fasilitas, perbaikan akses jalan masuk, area outbound, spot selfi, penambahan taman di gerbang masuk, dan lain-lain. Kalau dulu namanya Pemandian Air Hangat Mbrumbung, maka kami rencanya akan merubah namanya menjadi Wisata Petirtaan Jenggala Sunan Drajat (Jala Sundra),” terangnya.

Tak hanya itu, Husnul Wafiq mengharapkan, nantinya Mbrumbung akan jadi wisata yang mumpuni. Hal itu lantaran Mbrumbung telah memiliki sejumlah fasilitas wisata yang dipadukan dengan perpaduan potensi alam yang cukup menarik. Oleh karena itu, imbuh Husnul Wafiq, Mbrumbung nantinya diharapkan bisa menjadi penyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) yang lebih besar.

“Di sini juga ada dua mata air, yakni air panas dan dingin. Walupun kadang saat musim kemarau debitnya agak turun, tapi Alhamdulillah masih mencukupi. Semoga ke depan, Mbrumbung yang memiliki luas wilayah sekitar 4 hektar ini bisa jadi PADes yang besar. Selain itu, kami juga memberdayakan masyarakat sekitar, hampir sebagian besar karyawan di sini merupakan warga yang berasal dari Dusun tepanas Desa Kranji,” tandasnya.

Sementara itu, juru kunci Mbrumbung, Ahmad Tasrun yang juga hadir dalam tradisi bersih-bersih tersebut menuturkan, bahwa waktu pelaksanaan tradisi bersih-bersih sendang Mbrumbung ini memang sudah ditentukan oleh para leluhurnya semenjak dahulu. Para warga setempat yang hadir pun berduyun-duyun membawa sejumlah makanan dan jajanan ke lokasi sebagai wujud syukur.

“Iya mas, Keduk Mbrumbung ini sudah turun temurun, diadakan setiap bulan sembilan (September), intinya harus dilaksanakan pada pasaran Legi, kebetulan untuk kali ini kita menggelarnya pada hari Senin Legi. Kalau dulu, biasanya warga banyak yang membawa tumpeng dan hasil bumi sambil berjalan kaki bersama menuju lokasi, serta biasanya ada Tayuban juga,” tutur Tasrun yang juga Kepala Dusun Tepanas tersebut.

Uniknya, saat pelaksanaan Keduk Mbrumbung ini, Tasrun menjelaskan, ada bejana khusus yang digunakan saat membersihkan mata air dan sendang. Hal itu, menurut Tasrun, dilakukan sebagai wujud untuk meneruskan adat yang sudah dilakukan oleh para leluhur dari masa ke masa.

“Bejana itu terbuat dari kuningan, dan masyarakat menyebutnya dengan istilah Bogor Gongso. Cerita turun temurun, Bogor Gongso ini memang sudah digunakan oleh Sunan Drajat sejak dahulu saat mengeruk atau membersihkan sendang, cerita getok tularnya, dulu juga pernah ada pagebluk atau wabah. Karena sendang ini digunakan sebagai pemandian oleh masyarakat, maka harus dibersihkan sehingga masyarakat bisa menggunakannya kembali dan terhindar dari wabah,” paparnya.

Berdasarkan data yang dihimpun di lokasi, saat ini sendang Mbrumbung telah mengalami proses renovasi. Disinyalir, Mbrumbung telah lama ada, keberadaanya kerap dihubungkan dengan era kerajaan Airlangga. Hal itu dibuktikan dengan adanya bangunan batu bata kuno yang ada di lokasi sendang. Bahkan, juga ada beberapa patung dan arca yang masih tersimpan hingga saat ini.

“Seiring dengan berjalannya waktu, akar pohon yang ada di samping sendang ini agak merubah bentuk bangunan. Selain itu, dulunya kawasan ini juga pernah terjadi banjir dan mengalami pergeseran tanah, jadi sebagian ada yang tertimbun dan rusak. Dulunya juga ada sekitar 3 sampai 4 arca, semacam Ganesha, namun hilang, masih ada 1 patung yang kami simpan,” jelas Tasrun.

Sebagai informasi, bagi pengunjung yang ingin masuk ke Lokasi wisata pemandian air hangat Mbrumbung ini dikenakan tarif Rp 5 ribu. Di sekitar sendang juga terdapat beberapa batu unik, di antaranya Batu Pasujudan yang konon dulunya dijadikan sebagai tempat sembahyangnya Sunan Drajat dan Selo Penangkep yang terdiri dari 2 tumpukan batu besar yang bisa menghasilkan bunyi saat diketuk, warga juga menyebutnya dengan istilah Batu Gong.

Selain 2 batu tersebut, di bukit Mbrumbung ini juga terdapat Batu Blambangan, merupakan batu yang memiliki bentuk yang sangat besar dan utuh. Rata-rata batu yang mengelilingi bukit ini terdiri dari bebatuan andesit, dan jika dilihat tampak seperti pagar. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan Mbrumbun ini juga diyakini menyimpan sejumlah cerita yang belum terkuak hingga saat ini.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar