Peristiwa

Tolak Tambang Pasir, Ratusan Warga Lereng Kelud Aksi Diam

Kediri (beritajatim.com) – Ratusan warga lereng Gunung Kelud tepatnya di Desa Margo Urip, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri meluruk sejumlah lokasi tambang pasir dan batu (sirtu) di desa setempat. Mereka menggelar demo penolakan terhadap aktivitas pertambangan tersebut.

Tetapi dalam aksi itu, warga hanya berdiam diri (silent) sambil membentangkan berbagai macam poster tuntutannya. Mereka menolak eksploitasi lingkungan karena berdampak buruk terhadap keseimbangan ekosistem.

Perwakilan warga, Ferry Agung Nugroho mengatakan, dengan adanya penambangan pasir di desanya, warga mulai kesulitan untuk mendapatkan air. Padahal air ini sangat diperlukan. “Dampak yang paling dirasakan adalah, debit air yang sangat berkurang. Petani kesulitan untuk mengairi sawah. Air sumur warga juga berkurang,” ucap Ferry.

Sedikitnya ada empat titik lokasi penambangan sirtu di Desa Margo Urip. Dari catatan warga dua lokasi berada di Dusun Poh Gunung dan dua lainnya di Kali Gedok. Saat aksi digelar, aktifitas pertambangan tidak dilakukan. Beberapa truk pengangkut pasir terlihat parkir di pinggir sungai. Sementara alat berat juga tidak ada operatornya.


Terpisah, Kepala Desa Margo Urip, Suroso mengaku tidak mengetahui adanya aktifitas pertambangan di desanya. Apalagi sampai memicu adanya aksi warga. “Saya tahunya cuma tambang manual saja, tidak yang pakai mesin. Tapi ya tidak tahu kalau memakai mesin dan alat berat,” ucapnya.

Suroso menambahkan, pemerintah desa menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat desa. Pihaknya tidak tahu menahu dengan pertambangan tersebut. “Ini urusan perut, jadi pihak desa menyerahkan kepada warga,” ucapnya.

Aksi warga diakhiri dengan menempelkan poster seruan di pagar kantor desa Margo Urip. Warga akan melakukan aksi lebih besar hingga pertambangan benar-benar dihentikan. [nm/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar