Peristiwa

Tolak Omnibus Law, Mahasiswa PMII Gresik Bentrok dengan Petugas

Gresik (beritajatim.com) – Ratusan mahasiswa Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gresik turun ke jalan menolak kebijakan omnibus law. Aksi yang berlangsung di Kantor Pemkab Gresik itu, berakhir bentrok dengan petugas Polres Gresik.

Ada empat tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa PMII Gresik. Pertama, gagalkan keseluruhan isi omnibus law, kedua bebaskan 50 persen biaya ketiga. Selanjutnya, ketiga gratiskan biaya pendidikan SD, SMP, SMA atau sederajad, dan keempat hentikan kriminalisasi intimidasi aktivis, dan cabut SK DO mahasiswa.

Semula aksi mahasiswa PMII Gresik itu berlangsung damai. Bahkan, Wabup Gresik M.Qosim sempat menemui mahasiwa. Dirinya, menyepakati tuntutan mahasiswa yang menolak omnibuslaw karena dianggap merugikan buruh dan pelajar.

M.Qosim juga menyepakati dengan menandatangani pakta integritas yang diaediakan oleh demonstran. Namun, di sini letak pemincu bentroknya. Pemkab Gresik menolak memberikan stempel kelembagaan terhadap dokumen yang diajukan mahasiswa. Sehingga, membuat mahasiswa kecewa dan melakukan memblokiran jalan.

Imbas pemblokiran itu membuat polisi emosi sehingga jalan menjadi macet total. Dalam hitungan detik, polisi akhirnya berhasil menarik mundur para mahasiswa yang memblokir jalan.

Imbas aksi mahasiswa itu juga menyebabkan salah seorang mahasiswa sempat diamankan dan dibawa keluar barisan. Peserta aksi itu sempat mendapat pukulan dari aparat. Bahkan, ada salah satu media sempat dilarang mengambil gambar aksi oleh polisi yang berpakaian sipil. Mereka mengancam akan melaporkan ke atasannya.

Korlap aksi mahasiswa PMII Gresik, Nasihul Amin menuturkan, aksi ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah pusat yang ingin mengesahkan RUU omnibuslaw. Mahasiswa menilai Omnibsulaw syarat akan kepentingan pemodal.

“Dampaknya besar, seperti PKh makin dipermudah, nilai upah akan berkurang karena UMK dihilangkan, mencabut semua saksi pidana bagi pengusaha jadi saksi administrasi, sistem pendidikan fokus untuk kebutuhan industri dan ijazah bergelar palsu bisa dibeli dan tidak disanksi pidana,” tuturnya, Kamis (16/07/2020).

Mengenai aksinya yang bentrok dengan petugas. Dikatakan Nasihul Amin, dirinya kecewa dengan petugas. Sebab, ada salah satu mahasiswa yang mengalami kekerasan dari petugas. “Kami akan tetap aksi sampai tuntutan tercapai,” tandasnya.

Aksi yang berjalan selama tiga jam itu akhirnya bubar dengan damai. Ratusan mahasiswa yang akan melakukan aksi tetap dikawal dengan aparat kepolisian. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar