Peristiwa

Teror Pilkades, Polisi Amankan Botol Bekas Bensin dan Korek Api

Bb berupa botol bekas bensin di lokasi kebakaran

Sumenep (beritajatim.com) – Aparat Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap kebakaran di rumah Ketua Panitia Pilkades Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Moh. Hartono.

Tim inafis Polri turun langsung ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan proses identifikasi. Dugaan bahwa rumah tersebut sengaja dibakar oleh oknum yang tidak bertanggungjawab semakin kuat melihat sejumlah barang bukti yang diamankan dari lokasi. “Tim inafis mengamankan tiga botol plastik air mineral bekas digunakan untuk wadah bensin, kemudian korek api,” kata Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP Tego S. Marwoto, Jumat (11/10/2019).

Selain itu, polisi juga mengamankan satu buah kasur lipat yang terbakar, kemudian satu baju yang terbakar. Kasur dan baju itu milik S, ibu kandung Ketua Panitia Pilkades yang sehari-harinya tinggal di rumah itu.

“Melihat dari barang bukti yang ditemukan, sementara memang patut diduga bahwa rumah Ketua Panitia Pilkades itu sengaja dibakar,” terang Tego.

Namun ia belum berani menyimpulkan lebih jauh, karena sekarang masih dalam tahap pengumpulan bahan keterangan di lapangan, sekaligus meminta keterangan saksi-saksi.

“Tunggu saja hasil dari penyelidikan kami. Tim inafis masih bekerja mengungkap kasus ini. Untuk lokasi sudah kami amankan dan diberi police line,” ucapnya.

Pada Jumat dini hari, rumah Ketua Panitia Pilkades Juruan Laok dibakar orang tak dikenal. Api melahap bagian dapur dan kandang sapi. Beruntung api bisa cepat dipadamkan, sehingga tidak sampai merembet ke bangunan lain.

Tidak hanya pembakaran, peristiwa dini hari itu juga diduga sebagai upaya pembunuhan terhadap S (inisial), ibu kandung Ketua Panitia Pilkades. Indikasinya, S dilempari bensin dan korek api. S langsung berteriak minta tolong. Beruntung tetangga bergerak cepat memadamkan api.

Ketua Panitia Pilkades Juruan Laok, Moh. Hartono menyebut peristiwa itu sebagai teror pilkades, sebagai buntut tidak lolosnya salah satu bakal calon Kepala Desa setempat. Teror itu diawali dengan aksi unjuk rasa besar-besaran warga ke Pemkab dan DPRD.

Mereka memprotes tidak lolosnya bakal calon Kepala Desa atas nama Noer Mahenny. Para pendukung bakal calon kades tersebut mempertanyakan, mengapa dalam penilaian, pengalaman pemerintahan mendapatkan skor 0. Padahal, bakal calon ini pernah bekerja sebagai tenaga honorer di Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat. (tem/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar