Peristiwa

Terendam Air, 83 Hektare Tanaman Padi di Ponorogo Terancam Puso

Tanaman padi yang berada di Kelurahan Kepatihan terendam air akibat hujan deras. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 83 hektare lahan pertanian di Ponorogo sejak Rabu (3/2) malam tergenang air. Itu lantaran derasnya hujan yang turun beberapa hari terakhir. Sehingga membuat sungai yang melewati area persawahan itu meluap dan menggenangi lahan pertanian tanaman padi yang saat ini berumur sekitar 50-60 hari.

“Kalau lahan pertanian ini tergenang selama 3 hari, ya bisa dipastikan nanti bisa puso,” kata Kabid tanaman pangan holtikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Medi Susanto, Kamis (4/2/2021).

Dia berharap hari ini tidak turun hujan lagi. Sehingga air yang menggenangi lahan pertanian tersebut bisa surut. Kebanyakan, menurut Medi lahan pertanian yang tergenang ini berada di sekitar bantaran sungai. Di Kecamatan Siman, di Desa Madusari 10 hektare, Desa Brahu 3 hektare, Desa Beton 10 hektare. Sedangkan di Kecamatan Kota, di Kelurahan Surodikraman 6 hektare, Kepatihan 22 hektare, Pakunden 5 hektare dan Paju mencapai 28 hektare.

“Kelurahan Paju yang paling banyak, karena dekat dengan sungai Sekayu. Kalau lebih tiga hari masih tergenang, tanaman padinya bisa busuk dan puso,” katanya.

Dari 83 hektare lahan pertanian yang tergenang air itu, kata Medi sebagian besar tidak ikut asuransi. Sehingga jika puso tidak dapat ganti rugi. Sementara kalau lahannya diikutkan asuransi, pasti akan mendapatkan ganti rugi, meski kerusakannya 75 persen.

“Kalau kerusakan mencapai 75 persen, klaim asuransinya penuh. Satu hektare itu dapat ganti rugi sebanyak Rp 6 juta,” pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar