Peristiwa

Kisah di Balik Kehidupan Tukang Becak di Kota Surabaya

Tanpa Penumpang, Tak Apa, Ada Banyak Pemberi Sedekah

Tukang becak tidur, makan, dan bekerja di becaknya yang terparkir di sepanjang Jalan Mayjen Purn Dr Mustopo, Surabaya, Senin (11/5/2020). (Manik Priyo Prabowo).

Surabaya (beritajatim.com) – Panas terik matahari tak membuat para tukang becak di sepanjang Jalan Mayjen Purn Dr Mustopo, Surabaya, Senin (11/5/2020), merasakan gentar. Mereka seakan menikmati kebersamaan baik saat bercanda gurau antar tukang becak lainnya.

Masih pukul 13.20 WIB, satu per satu tukang becak pun mulai berdatangan. Memarkirkan becaknya dengan jarak satu hingga dua meter.

Mereka lantas berdiri dan turun becak sejenak untuk saling sapa. Tertawa lebar sampai saling tunjuk dan memegabg dada pun mereka luapkan untuk melepas tawa. Hanya saja tawa itu seketika sirna saat ada mobil dari jara 50 meter berjalan pelan di pigir jalan.

“Set…. Heh… Ada tu…,” Cetus seorag lelaki berpawakan tinggi kurus yang berada tak jauh dari krumunan.

Tak pelak para tukang becak pun fokus memandang mobil putih plat L hitam itu. Sembari berjalan pelan mereka mengharapkan mobil tersebut berhenti.

Tapi sayang ternyata hanya taksi online yang hendak menjemput penumpang. Usai mobil menjemput dan berlalu, tak lama mobil putih lain pun berjalan pelan dan berhenti di ujung seakan terlihat menghampiri tukang becak untuk memberikan sesuatu.

Tak terlihat jelas karena sepertinya bukanlah barang besar yang diberikan. Sesampainya di sekitar halte bus depan kampus Unair Fakultas Kesehatan, mobil tersebut berhenti.

Seorang lelaki pun turun dan memberi amplop ke tukang becak. Dengan pandangan terfokus ke pemberi, tukang becak lain pun seakan berharap mereka dihampiri dan diberi uang.

Marzuki (56) lelaki perawakan berisi dan perut gembul mengaku kepada bertajatm.com bahwa mereka sejatinya bekerja. Hanya saja hampir seharian dia duduk di becak, tak ada satu pun penumpang yang memesan jasanya.

“Ya cari penumpang. Kalau dapat santunan ya terima kasih karena rejeki. Hampir setiap hari saya disini tapi ya sepi penumpang,” ujarnya.

Tak bisa dipungkiri, Marzuki ayah dan anak yang jauh dari keluarga ini mengaku sejatinya mereka mengharapkan bantuan. Menurutnya, saat Bulan Suci Ramadhan banyak pemberi sedekah ke tukang becak di jalanan. Terlebih saat ini sedang musim corona, sumbangan pun ia dapatkan beberapa kali sehari. Meski terkadang sehari penuh juga tak ada yang memberi.

“Kadang banyak kadang sedikit. Tapi ya syukur bisa dapat. Pernah dapat uang Rp 500 ribu sehari kadang juga hanya dapat beras atau sembako. Malah kemarin itu malam-malam ada yang membagikan uang jutaan rupiah. Tapi saya gak dapat,” lelaki asal Jember ini.

Marzuki hanyalah satu dari sekian banyak tukang becak di jalan kawasan kampus, RS, dan sekolahan ini. Terhitung ada setidaknya 30 lebih tukang becak menunggu.

Meski demikian ternyata ada juga beberapa tukang becak yang mau mengantar penumpang. Seperti Imam Rofiki (44) lelaki yang mengaku asli Surabaya. Saat beritajatim.com mencoba mendekati dan bertanya bisa mengantar ke kamar mayat RS dr Soetomo, tanpa tawar mebawar harga ia meminta beritajatim.com untuk naik becaknya.

“Ya kalau ada naik, saya mau. Kalau dapat sedekah, ya saya terma. Yang pasti bersyukur saja,” katanya.

Menurut Imam, tukang becak bergerombol itu sudah biasa. Ada yang murni jadi tukang becak, ada juga yang hanya memakai kedok tukang becak saja. Malahan, mereka ada yang rela berhari-hari menunggu dan menunggu bantuan atau sedekah. Bahkan, ada yang sampai tidur di atas becak berhari-hari juga. Namun baginya profesi tukang becak itu cukup, asal tidak mencuri atau bertindak kriminal saja.

“Cukup atau tidak ya kita syukuri. Kaya hari ini saya juga baru dapat tiga kali tarikan. Jadi ya bersyukur saja,” tandasnya.

Pantauan beritajatim.com memang sepanjang jalan ini dipakai parkir tukang becak. Mereka akan bersih jika ada petugas yang mengabari bahwa pejabat, terutama Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, bakal lewat. Jika ada mereka, tukang becak pun bersih tak ada satu pun. [man/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar