Peristiwa

Tangis Haru di Bawah Tiang Bendera

Peserta Gladi Mula ke-14 MPA (Mahasiswa Pecinta Alam) Undar Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Empat belas mahasiswa mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) atau Gladi Mula ke-14 MPA (Mahasiswa Pecinta Alam) Trisula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang. Proses pembaiatan mereka di kawasan bukit Seloringgit Wonosalam berlangsung haru. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu.

Gelap belum beranjak dari perbukitan Seloringgit, Panglungan, Wonosalam, Minggu (27/12/2020) dini hari. Tanah basah sisa hujan juga masih menggenang di jalanan setapak. Jalur tanah itu sangat licin ketika ditapaki kaki manusia. Sisa air hujan juga mengakibatkan genangan lumpur di sana sini.

Situasi itu semakin klop dengan ‘orkestra’ malam di kawasan hutan Tahura (tanaman hutan rakyat) tersebut. Suara hewan malam berpadu dengan gesekan daun terhempas angin. Di ujung jalan setapak, dua tiang setinggi sekitar 1 meter berdiri tegak. Pada bagian ujung masing-masing tiang, terlilit berdera berdampingan.

Satu bendera berwarna merah-putih, satu lagi warna oranye. Di tengah bendera oranye itu terdapat gambar bumi dan tulisan MPA Trisula. Beberapa saat, yang ada hanya kesunyian. Namun keheningan itu seketika pecah ketika terdengar nyanyian lirih lagu Syukur. Lagu ciptaan H Muthohar itu dilantunkan secara bersama-sama oleh puluhan orang berderet di tepi jalan setapak.

Sejurus kemudian 14 mahasiswa berjalan lambat-lambat menuju dua bendera itu. Di punggung mereka nampak tas ransel berukuran besar. Warnanya lusuh karena dibalut lumpur. Sedangkan di bagian kepala, berhias topi rimba. Lagi-lagi, topi bundar itu juga lusuh oleh lumpur.

Satu persatu belasan mahasiswa itu mendekat ke tiang bendera. Meraih bagian ujung, kemudian menciumnya. Nah, saat itulah tangisan mereka pecah. Suara sesenggukan itu terdengar di sela nyanyian bersama lagu Syukur. Begitu terus berulang-ulang.

Setelah melewati dua bendera, mahasiswa yang baru selesai mengikuti diklat tersebut dikalungi syal berwarna merah bertuliskan MPA Trisula. Itu sebagai penanda bahwa mereka sudah masuk sebagai anggota organisasi pecinta alam tingkat universitas tersebut.

“Hari ini adik-adik resmi menjadi anggota muda di MPA Trisula. Kami ucapkan selamat. Dengan berakhirnya prosesi ini, tidak ada lagi panitia, tidak ada lagi peserta. Semua adalah saudara di bawah naungan bendera MPA Trisula,” ujar Ketua Pelaksana Gladi Mula ke-14 MPA Trisula, Zakaria Fatoni.

Dihadiri Mapala Berbagai Kampus

Peserta Gladi Mula sedang menyusuri bukit Seloringgit

Toni Ndromos, sapaan akrab Zakaria Fatoni mengatakan, Gladi Mula (GM) adalah persyaratan wajib untuk menjadi anggota MPA Trisula. Para peserta GM mengikuti dua sesi pelatihan, yakni ruang dan lapangan. Di ruangan selama empat hari, di lapangan enam hari.

Berbagai materi diberikan dalam diklat tersebut. Di antarannya, keorganisasian, kepemimpinan, serta meteri skill terkait kepecintalaman. “Kemudian mereka mempraktikkan di lapangan. Semisal, panjat tebing, bertahan hidup di alam bebas (survival), penyeberangan sungai, dan lain sebagainya,” kata mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Undar ini.

Selain mendapatkan syal warna merah, 14 mahasiswa baru yang lulus diklat juga mendapatkan bonus nama rimba. Nama tersebut seputar tanaman yang ada di perbukitan Seloringgit. “Awalnya, peserta di ruangan ada 14 orang lebih. Namun yang mengikuti diklat lapangan 14 orang. Alhamdulillah, mereka semua lulus,” pungkas mahasiswa kelahiraan Madura ini.

Penutupan diklat tersebut juga dihadiri organisasi pecinta alam berbagai kampus, baik dari Jombang maupun luar kota. Di antaranya, Mapalsa (Universitas Islan Negeri Sunan Ampel), Jemapala (Universitas Islam Lamongan), serta Mapala Unibo (Bondowoso).

Kemudian Pasung (Pecinta Alam Universitas Sunan Giri), Mapala Pelita (Universitas PGRI Kediri), Mahaspala (IAIN Kediri), Impecta (Unipdu Jombang), Green Campus (STKIP PGRI Jombang), Basundara (STIE Dewantara Jombang), serta Baturpala (Fakultas Teknik Undar Jombang). [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar