Peristiwa

Tanda Tangan Konsultan Perencana Kantor Kecamatan Jenggawah yang Ambruk Dipalsu

Jember (beritajatim.com) – Konsultan perencana proyek pembangunan rehabilitasi gedung dan interior kantor Kecamatan Jenggawah mengaku ada pemalsuan tanda tangan dalam dokumen yang diajukan.

Hal ini terungkap dalam rapat gabungan untuk membahas insiden runtuhnya atap kantor Kecamatan Jenggawah yang tengah direnovasi, di gedung parlemen, Senin (9/12/2019).

Rapat diikuti anggota Komisi A dan Komisi C DPRD Jember, kontraktor, pengawas, konsultan perencanaan, dan Forum Masyarakat Jasa Konstruksi (Formasi). Dinas Cipta Karya diwakili Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Endi Susilo dan Bappeda diwakili Kepala Sub Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Ismail.

Pujo Santoso, Direktur CV Menara Ciptagraha, mengatakan jika nama perusahaannya dipinjam untuk menjadi konsultan perencanaan proyek kantor Kecamatan Jenggawah oleh seseorang berinisial F. “Sekarang dia tidak bisa saya hubungi. Ponselnya tidak aktif,” katanya.

Pujo membenarkan jika nama perusahaannya digunakan untuk konsultasi perencanaan lima proyek kantor kecamatan. Selain Jenggawah, ada kantor Kecamatan Panti, Ambulu, Arjasa, dan Mayang.

Urusan pinjam bendera ini tidak gratis tentu saja. Pujo mendapat upah setidaknya Rp 2 juta per konsultasi proyek. Namun Pujo mengaku tak tahu apa-apa soal perencanaan proyek itu, karena F hanya meminjam ‘bendera’ perusahaannya. “Itu tanpa sepengetahuan saya,” katanya.

Kontak pertama Pujo dengan F terjadi pada 2017. Saat itu, F meminjam bendera CV Menara Ciptagraha lewat salah satu teman Pujo untuk konsultasi proyek fisik di Dinas Kesehatan. Pujo tak sendirian, karena ada beberapa perusahaan jasa konsultasi proyek yang dipinjam F. Awalnya dia tak mau. Tapi akhirnya dia setuju. Apalagi praktik pinjam bendera ini lazim terjadi.

Rupanya F tidak hanya meminjam untuk proyek di Dinkes. Tanpa setahu Pujo, F menggunakan Menara Ciptagraha untuk proyek kantor kecamatan. “Saya tahunya uang (fee) di rekening masuk,” katanya.

Dia mengaku baru tahu jika nama perusahaannya menjadi konsultan proyek kantor Kecamatan Jenggawah setelah ada insiden ambruknya atap, Selasa (3/12/2019) lalu. “Saya dikasih tahu teman-teman kalau konsultannya pakai bendera perusahaan saya,” kata Pujo.

Pujo mengaku tidak pernah menandatangani berkas-berkas administrasi terkait CV Menara Ciptagraha untuk proyek kantor Kecamatan Jenggawah. Ia tidak tahu siapa yang tanda tangan.

“Yang jelas kemarin sudah diperiksa oleh Unit Tipikor (Polres Jember). Nama terang (di dokumen) adalah nama saya, tapi tanda tangannya bukan. Dipalsukan,” kata Pujo.

“Saya tidak tahu persis siapa yang memalsukan. Mungkin staf dia atau mungkin dia (F) sendiri,” kata Pujo.

Namun memalsukan tanda tangan ternyata juga sudah dilakukan saat F meminjam nama CV Menara Ciptagraha untuk proyek di Dinkes. “Ada sebagian awal (tanda tangan) saya, ada yang sebagian karena mungkin sulit menemui saya (akhirnya ada tanda tangan yang dipalsu),” kata Pujo. Dia menyerahkan semua kepada penegak hukum.

Proyek pembangunan rehabilitasi gedung dan interior kantor Kecamatan Jenggawah mulai dikerjakan pada 24 Juli 2019 dan sesuai jadwal seharusnya selesai pada 21 November 2019. Namun hingga Selasa (3/12/2019), proyek itu belum kelar dan malah atapnya ambruk dan melukai satu orang pekerja. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar