Peristiwa

Tahun 2020, Ada 5,4 Hektare Lahan dan Hutan yang Terbakar di Ponorogo

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBP Ponorogo Setyo Budiono(foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Musim kemarau seperti sekarang ini, yang harus diwaspadai adalah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Ponorogo, bencana karhutla ini ternyata cukup tinggi.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, ada lima kecamatan yang terjadi karhutla pada tahun 2018 dan 2019. “Harus kita waspadai bersama karhutla pada tahun ini,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBP Ponorogo Setyo Budiono, Senin (21/9/2020).

Pada tahun 2018 lalu, total ada 166,3 hektare hutan dan lahan yang terbakar di Ponorogo. Sementara di 2019, berkurang namun masih cukup luas. Yakni mencapai 29,5 hektare. Tercatat, karhutla terjadi di Badegan, Sampung, Slahung, Sambit, dan Sawoo. “Rata-rata, yang sering terbakar adalah hutan pinus dan semak-semak,” kata Budi sapaan akrab Setyo Budiono.

Tahun ini, di bumi reyog sudah ada 5,4 hektare yang terbakar. Jumlah tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Badegan, Sampung, Jambon, Bungkal, dan Slahung. Dia menyebut karhutla pertama di tahun ini semak-semak hutan di Jambon. Budi menyebut jika sejak 2018 lalu, dapat dilihat bahwa penyebab utama karhutla adalah human error. Di sejumlah kecamatan yang rawan terjadi karhutla, seringkali petugas mendapati biang kebakaran adalah ulah manusia.

“Jadi warga membersihkan lahan dengan cara membakarnya. Terus ditinggal begitu saja, padahal biasanya angin kemarau kencang, sehingga api mudah merambat,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Budi masalah karhutla ini harus menjadi perhatian bersama. Perlu koordinasi intens lintas sektor agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat. Selain itu perlu sosialisasi kepada masyarakat bahwa membakar hutan itu juga ada sanksinya. “Perlu sosialisasi yang intens, masyarakat harus sadar tahu bahwa membakar hutan itu ada sanksinya,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar