Peristiwa

Tahanan Kabur, Kejaksaan Tahu Saat Terdakwa Hendak Disidangkan

foto/ilustrasi

Bojonegoro (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak mendapati terdakwa Sunan (59) Warga Jalan Sumpil 1, nomor 55, RT 03 RW 04 Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang saat hendak disidangkan, pada Rabu (26/12/2018).

Terdakwa sebelumnya oleh Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro karena didakwa melanggar Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro, Dodik Mahendra mengatakan, pihaknya telah menerima surat tembusan adanya pembantaran terdakwa karena sakit dan harus mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Jumat (21/12/2018).

“Diketahui ketika mau melakukan persidangan ternyata tidak ada di Lapas. Tapi sejauh ini belum ada laporan lagi tentang status terdakwa dari pihak Lapas yang mengawal terdakwa,” ujarnya di Kantor Kejari Bojonegoro, Senin (7/1/2018).

Selama dititipkan di Lapas, lanjut dia, seharusnya tahanan tersebut juga menjadi tanggung jawab pihak Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro. “Kejaksaan hanya dapat penetapan pembantaran dan melaksanakan penetapan hakim. Hal itu sesuai dengan tugas dan kewenangan KUHP,” ungkapnya.

Proses pembantaran ini dilakukan pertama oleh petugas Lapas dan mengirim surat pengajuan ke Pengadilan Negeri (PN) dengan tembusan ke Kejari. Namun, saat hendak disidangkan, setelah di kroscek ke RSUD Bojonegoro ternyata terdakwa kasus pengeroyokan itu sudah tidak ada.

“Kami juga kroscek di rumahnya yang ada di Malang ternyata juga tidak ada. Informasi terakhir di rumah saudaranya di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro,” terangnya.

Seharusnya, lanjut dia, dalam proses peradilan terdakwa harus menjalani agenda putusan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bojonegoro. Namun, karena kasus ini secara hukum tidak bermasalah, proses peradilan di meja hijau akan bisa tetap berlanjut.

“Sebelum putusan terdakwa pergi, proses hukum akan tetap berjalan. Putusan bisa dilakukan dengan cara in absentia (vonis tanpa kehadiran terdakwa),” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, Kepala Lapas Bojonegoro, Bambang Haryono mengatakan, karena status terdawa masih tahanan titipan Hakim Pengadilan Negeri Bojonegoro, maka pengawalan dan tanggung jawab tahanan yang dirawat di rumah sakit menjadi tanggung jawab pihak yang menahan.

“Selama masa pembantaran ini tugas kami sudah selesai, karena statusnya sendiri masih titipan (tahanan). Kita ini kalau tidak menolong orang dan meninggal nanti kita yang salah,” katanya.

Sekadar diketahui, pembantaran terdawa Sunan ini dilakukan sejak Jumat (21/12/2018). Namun, hingga kini tidak ada kejelasan keberadaan terdakwa. Terdakwa diduga menghilangkan diri selama masa pembantaran. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar