Peristiwa

Surabaya Darurat Gangster, Begini Kata Pakar

Surabaya (beritajatim.com) – Munculnya kelompok remaja yang menyebut dirinya gangster, membuat resah warga Surabaya. Bahkan, dalam sepekan terakhir, satu nyawa sudah melayang akibat ulah para gangster tersebut.

Menanggapi itu, Dosen Prodi Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Sugeng Harianto MSi mengungkapkan bahwa munculnya tawuran antar gangster di Surabaya menjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Sebab, selama ini fenomena gangster hanya ditemukan di Jakarta dan sejumlah daerah di Jawa Barat.

Sugeng menilai, tawuran antar gangster yang terjadi di Surabaya ini merupakan salah satu permasalahan sosial. Dalam konteks ini adalah kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat di kota besar seperti Surabaya.

Menurutnya, gangster merupakan sub kebudayaan menyimpang yang dikembangkan dan dilakukan oleh anak-anak usia muda. Mereka membentuk in group (kelompok dalam). Sugeng menyebut, sub kebudayaan menyimpang yang dilakukan gangster boleh merupakan resistensi terhadap kondisi masyarakat yang senjang dan tidak adil.

“Anggota gangster ini boleh jadi berasal dari strata sosial bawah, yang sehari-hari hidup di tengah-tengah kemiskinan orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Mereka sudah bosan menyaksikan masyarakatnya yang senjang, tidak adil, dan miskin,” ungkap Sugeng kepada beritajatim.com, Sabtu (3/12/2022).

Ia mengatakan, bahwa munculnya gangster bisa dilacak akarnya pada struktur sosial masyarakat itu sendiri. Misalnya saja seperti masyarakat Surabaya yang tidak bisa dipungkiri dengan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi. Sugeng menilai, mereka menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami marginalisasi.

“Mereka adalah kelompok masyarakat yang pesimistis menatap masa depan. Masa depan yang sejahtera bukan milik mereka. Mereka merasa terpinggirkan. Meskipun struktur masyarakat bersifat terbuka, namun mereka pesimistis bisa melakukan mobilitas sosial. Berbagai saluran mobilitas sosial seperti pendidikan dan pekerjaan seolah-olah menutup akses mereka,” bebernya.

Aksi gangster di Surabaya hanya untuk eksistensi

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu sebanyak 7 anggota gangster bernama Team GukGuk telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Dari hasil penyelidikan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, diketahui bahwa motif dari aksi pelaku adalah agar terlihat eksis.

Melihat itu, Sugeng tak menyangkal dengan pengakuan para pelaku tersebut jika aksinya hanya sekedar untuk eksistensi. Hanya saja, eksistensi yang ingin mereka wujudkan adalah eksistensi dalam bentuk sun kebudayaan menyimpang.

“Mereka ingin menunjukkan ke masyarakat bahwa meskipun masyarakat didominasi oleh kekuatan ekonomi kapitalis, namun mereka ada di masyarakat. Untuk menunjukkan eksistensi mereka dengan menggunakan sub kebudayaan menyimpang, yang berbentuk kekerasan. Kekerasan yang mereka pertontonkan merupakan bentuk resistensi terhadap kondisi masyarakat,” paparnya.

Lebih lanjut disampaikan Sugeng, bahwa tawuran antar gangster merupakan fenomena tawuran yang melibatkan in group dan out group. Dikatakannya, in group dan out group merupakan dua kelompok yang memiliki batas-batas yang tegas, seperti ‘kita dan mereka’.

“Dalam in group mempunyai solidaritas kelompok yang kuat dan mengembangkan stereotipe terhadap kelompok lain. Anggota in group menganggap kelompoknya yang paling baik dan sempurna, sementara kelompok lain jelek, bahkan diberikan stereotipe yang bersifat negatif,” urainya.

Penangkapan anggota gangster berdampak sementara

Sugeng juga menyoroti penangkapan para anggota gangster. Dia menilai jika penangkapan tersebut dampaknya bersifat sementara. Hal itu tidak menyelesaikan akar persoalan munculnya gangster dan tawuran antar gangster. “Untuk sementara, kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat kembali normal. Namun, apakah permasalahan gangster sudah bisa diatasi ? Menurut saya, belum,” tegasnya.

Fenomena gangster, lanjutnya, ke depan akan terus terjadi. Penjatuhan sanksi berat sekalipun tidak akan memberikan efek jera bagi pelaku gangster. Namun, di sisi lain untuk mengatasi persoalan tawuran antar gangster ini tidak bisa dilakukan secara instan.

“Selama kesenjangan dan ketidakadilan masih terjadi di masyarakat, maka permasalahan seperti tawuran antar gangster sulit untuk ditiadakan. Menurut saya, kemiskinan, kesenjangan sosial dan ekonomi, dan ketidak adilan di masyarakat yang harus diatasi terlebih dahulu,” tegasnya.

Pemerintah didorong rumuskan kebijakan pemberdayaan masyarakat miskin

Tak terlepas dari itu, Sugeng juga menyinggung soal kinerja pemerintah. Ia menyebut bahwa pemerintah belum berhasil menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. Menurutnya, kemiskinan yang dialami masyarakat adalah kemiskinan absolut. Dimana masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Angka kemiskinan masih 26 juta atau sekitar 10 persen. Yang harus dilakukan pemerintah adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan pemberdayaan masyarakat miskin, yang membawa masyarakat miskin berdaya, secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Bukan program penanggulangan kemiskinan yang sifatnya karitatif dan konsumtif,” tandasnya. (ipl/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar