Peristiwa

Sungai Patung Meluap, Kendaraan di Jalur Pasuruan-Mojokerto Mogok

Sejumlah kendaraan baik roda empat maupun dua mogok saat melintas.

Mojokerto (beritajatim.com) – Sejumlah kendaraan baik roda empat maupun roda dua mogok saat melintas di jalur nasional Pasuruan-Mojokerto, tepatnya di Desa/Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Ini setelah hujan deras menyebabkan Sungai Patung meluap hingga naik ke jalan raya.

Hujan yang menguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto terjadi sejak, Kamis (24/6/2021) petang. Akibat hujan deras tersebut Sungai Patung di Dusun Patung, Desa Pungging, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto meluap hingga menggenangi akses jalan raya penghubung Mojokerto-pasuruan.

 

Akibatnya, puluhan pengendara roda empat maupun dua yang melintas genangan luapan Sungai Patung tersebut mogok. Luapan Sungai Patung setinggi satu meter tersebut menyebabkan sejumlah kendaraan yang nekat melintas mogok karena mesinnya terendam air.

Warga sekitar dibantu beberapa relawan berusaha membantu baik pengendara yang mogok dan mengatur arus lalu lintas. Ini lantaran, sempat terjadi kemacetan hingga satu kilometer, baik dari arah Pasuruan maupun Mojokerto, karena banyak kendaraan yang melintas harus berhenti.

Setelah sekitar dua jam lamanya, genangan air akibat luapan Sungai Patung di Jalan Raya Desa Pungging tersebut beransur surut. Arus lalu lintas pun kembali normal. Jalur nasional Pasuruan-Mojokerto tersebut kerap kali terjadi luapan air saat terjadi hujan deras.

Salah satu pengendara kendaraan roda dua, Yusuf Prabu mengatakan, ia harus berhenti lantaran sepeda motor miliknya mogok. “Jalannya banjir karena luapan sungai, ketinggalan di jalan sampai 1 meter. Mobil banyak yang macet, mogok, ini saya mau ke Mojokerto biasanya juga banjir kalau hujan deras,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu warga Gayu Nugraha mengatakan, Sungai Patung meluap akibat hujan deras di wilayah Pacet. “Luapan Sungai Patung naik ke atas sehingga banjir, mungkin dari atas wilayah Pacet hujan deras. Airnya sampai sini, sungai tidak bisa menampung debit air dan meluber ke jalan,” katanya.

Masih kata Gayu, ketinggian air di jalan raya hingga selutut orang dewasa dan arusnya deras. Sehingga kondisi tersebut bahaya untuk pengendara khususnya roda dua. Banyak kendaraan roda dua yang melintas mogok karena nekat menerjang banjir.

“Banyak kendaraan mogok, khususnya dua sehingga warga membantu mengatur lalu lintas supaya tidak terlalu macet dan tidak banyak kendaraan yang mogok,” tegasnya. [tin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar