Peristiwa

Sungai Brantas Meluap, 6 Perahu Penyeberangan Takut Beroperasi

Kediri (beritajatim.com) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kediri selama 12 jam tidak hanya menyebabkan tanah longsor di Lereng Gunung Wilis, tetapi air Sungai Brantas di Desa Maesan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri meluap. Akibatnya, enam perahu penyeberangan tidak beroperasi dan satu warung terendam.

Gendu (45) salah satu penyedia jasa perahu penyeberangan mengaku, debet air Sungai Brantas mulai meluap, sejak pukul 03.00 WIB. Air terus naik hingga meluber ke warung yang ada di tepi sungai. Ketinggian air mencapai 1 meter.

“Dalam kondisi seperti ini, kami tidak berani beroperasi. Arusnya deras, apalagi disini kebetulan ada di lokasi pertemuan antara dua arus Sungai Brantas dengan sungai desa,” ujar Gendu, pada Senin (14/12/2020).

Perahu penyeberangan milik Gendu hanya bisa terpakir di tepi. Beberapa orang calon penumpang terpaksa balik kanan, setengah mengetahui sarana penyeberangan manual itu tidak beroperasi.

“Tadi banyak yang mau lewat. Tetapi akhirnya balik lagi, setelah tahu tidak bisa beroperasi. Mereka bisa lewat Jembatan Wijayakusuma. Tetapi cukup jauh karena harus berputar,” imbuh pria bertopi asal Desa Maesan itu.

Perahu penyeberangan milik Gendu ini menjadi alat transportasi air yang menghubungkan Desa Maesan, Kecamatan Mojo dengan Desa Purwodadi, Kecamatan Kras. Setidaknya ada enam perahu penyeberangan yang tidak dapat beroperasi karena derasnya arus. Akibatnya, warga terpaksa harus berputar hingga puluhan kilometer melalui Jembatan Wijayakusuma.

Sementara itu, Mukarom, salah seorang warga mengaku, keberadaan perahu penyeberangan di Desa Maesan cukup penting. Selain memperpendek jarak antara dua kecamatan, juga sangat murah. “Daripada harus melalui Jembatan Wijayakusuma, lebih baik lewat perahu penyeberangan ini. Karena lebih cepat dan murah. Tetapi karena tidak beroperasi, saya terpaksa berputar jauh,” katanya.

Gendu hanya mematok tarif Rp 2 ribu tiap satu motor. Tetapi diakuinya terkadang ada yang dibebaskan untuk tidak membayar karena berasal dari warga sekitar. Menurut Gendu, sejak tiga tahun terakhir air Sungai Brantas di wilayah Desa Maesan selalu meluap bila datang musim penghujan. Sementara itu, luapan air Sungai Brantas paling besar terjadi pada 2003 silam. Kala itu, air melompat melewati tanggul hingga masuk ke rumah-rumah warga. [nm/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar