Peristiwa

Suhu Dingin di Kabupaten Mojokerto Disebabkan Angin dari Australia

Foto: Ilustrasi cuaca dingin pegunungan

Mojokerto (beritajatim.com) – Berdasarkan analisa dan prakiraan Cuaca Badan Meteologi, Klimitologi, dan Geofisika (BMKG), di Kabupaten Mojokerto terjadi cuaca dingin dengan titik terendah ada pada 19 derajat celcius dan titik tertinggi mencapai 30 derajat celcius sejak beberapa hari. Meski musim kemarau, namun penurunan suhu menjadi lebih dingin pada malam hingga dini hari.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, cuaca dingin di musim kemarau yang terjadi di beberapa daerah di Pulau Jawa tersebut tak lepas dari pengaruh penguatan monsun Australia.

“Secara umum, kondisi cuaca panas dan kering pada siang hari tapi dingin pada malam hingga pagi hari,” ungkapnya, Sabtu (1/8/2020).

Berdasarkan analisa dan prakiraan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Surabaya, ada tiga penyebab munculkan udara dingin akhir-akhir ini. Pertama, karena adanya pergerakan massa udara dari Australia. Di mana udaranya dingin dan kering akibat adanya daerah tekanan rendah di samudra pasifik bagian barat dan daerah tekanan tinggi di Benua Australia.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini.

“Angin yang bertiup melewati Indonesia ini juga disebut sebagai monsun dingin Australia. Kedua yang semakin membuat udara dingin adalah sedikitnya awan. Kondisi ini seiring dengan perubahan musim penghujan ke kemarau. Jika biasanya sinar matahari yang masuk ke bumi bisa tertahan oleh awan, kali ini radiasi matahari yang diterima oleh bumi akan dipancarkan kembali ke luar angkasa pada malam harinya,” katanya.

Ini, kata Zaini, karena tidak adanya tutupan awan sehingga secara otomatis energi tersebut akan merusak secara besar-besaran ke luar angkasa yang berakibat suhu di bumi menjadi dingin. Akibatnya, panas yang biasanya juga tertahan turut menghilang. Namun menurutnya, kondisi tersebut normal terjadi pada musim kemarau seperti saat ini.

“Udara dingin yang biasanya terjadi saat malam hari sampai menjelang pagi akhir-akhir ini, pertanda datangnya musim kemarau. Sehingga semakin langit cerah, maka suhu akan semakin dingin. Saat menjelang musim kemarau sampai puncaknya nanti, langit akan terlihat cerah sepanjang hari. Sementara suhu semakin terasa dingin. Sebaliknya, pada siang hari, suhu cenderung lebih hangat,” jelasnya.

Kondisi tersebut, tegas Zaini, berbeda saat malam hari. Radiasi bumi lepas ke angkasa bisa langsung maksimal, karena langitnya juga cerah. Pada malam hari, radiasi yang diterima dari matahari nol. Sementara radiasi bumi ke angkasa berlangsung maksimal, kondisi ini juga membuat kandungan air di dalam tanah dan di udara menjadi rendah.

“Yakni dengan rendahnya kelembapan udara yang menyebabkan suhu dingin yang kering. Diperkirakan, udara dingin ini akan berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Menyusul, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. Pada puncak musim kemarau ini, angin monsun Australia kian dominan cuaca di wilayah selatan ekuator yang ditandai langit cerah, sepanjang hari dan kelembaban rendah,” tegasnya.

Khusus di Kabupaten Mojokerto, sesuai prakiraan BMKG cuaca titik terendah bahkan ada pada 19 derajat celcius. Sedangkan titik tertinggi ada pada 30 derajat celcius. UntukĀ  daerah pengunungan seperti Kecamatan Trawas, suhu bisa kategori 19 derajay celcius sampai 21 derajat celcius sehingga pihaknya menghimbau untuk para pendaki gunung juga harus waspada.

“Karena biasanya, bulan Agustus jelang peringatan Hari Kemerdekaan, banyak pendaki yang memperingati di puncak gunung pawitra (Gunung Penanggungan, red). DiĀ Kecamatan Trawas, suhu bisa kategori 19 derajat celcius sampai 21 derajat celcius dan diperkirakan puncaknya terjadi bulan Agustus ini sehingga para pendaki dihimbau waspada cuaca dingin,” pungkasnya. [tin/ted]






Apa Reaksi Anda?

Komentar