Peristiwa

Sudah Tiga Bulan Tenggelam, Evakuasi Kapal MV Mentari Crystal Masih Molor

Foto: Ilustrasi kapal tenggelam

Surabaya (beritajatim.com) – Evakuasi bangkai kapal MV Mentari Crystal yang tenggelam di dermaga Terminal Teluk Lamong (TTL) pada November 2020 hingga kini masih belum selesai dan terncam molor.

Kondisi ini membuat kegiatan bongkar muat di dermaga Teluk Lamong menjadi tidak optimal. Sejumlah kapal yang seharusnya dapat bersandar di terminal itu kini harus beralih ke terminal lainnya.

Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Utama Tanjung Perak, Arif Toha mengakui bahwa evakuasi bangkai kapal MV Mentari masih terus dilakukan. Ia menargetkan dalam satu bulan ke depan pengangkatan bangkai kapal dapat dituntaskan.

“Saat ini masih dilakukan pemotongan dan pengangkatan bagian kapal. Kita harapkan ini bisa tuntas sehingga arus bongkar muat kembali berjalan lancar,” jelas Arif saat dihubungi akhir pekan lalu kepada awak media.

Akibat bangkai kapal MV Mentari yang tak kunjung diangkat, proses bongkar muat kapal terpaksa dipindahkan ke sejumlah pelabuhan terdekat. Seperti ke dermaga Internasional, Terminal Petikemas Srabaya (TPS) dan Berlian.

“Sementara ini bongkar muat kita alihkan kapal ke dermaga Internasional dan Terminal Petikemas Srabaya (TPS) serta Berlian,” ujarnya.

Arif mengaku ada banyak kendala yang dihadapi. “Kondisi cuaca salah satunya yang menghambat lambatnya evakuasi. Hujan dan angin terutama,” tandasnya.

Sebelumnya PT Terminal Teluk Lamong (TTL) juga terus mendesak agar pemilik kapal MV Mentari Crystal mempercepat evakuasi bangkai kapalnya. Menurutnya bangkai mengganggu operasional pelabuhan, seperti pelayanan kapal dan kegiatan bongkar muat barang.

“Kami minta proses evakuasi lanjutan terus dilakukan PT Mentari Mas Multimoda sebagai pemilik kapal yang bertanggung jawab atas insiden tersebut, dengan mengupayakan pengangkatan bangkai kapal dari kolam dermaga,” kata Direktur Utama PT TTL Faruq Hidayat di Surabaya (26/1/2021).

Kapal MV Mentari Crystal tenggelam di dermaga domestik TTL Surabaya, dugaannya karena adanya kebocoran di lambung kapal, persoalan air balas, penempatan muatan dan sebagainya.

Kapal tujuan Kendari, Sulawesi Tenggara milik PT Mentari Multy Moda (3M) buatan 1992 itu sebenarnya dinyatakan masih laik laut oleh pihak Syahbandar Tanjung Perak. Tapi kenyataannya kapal tenggelam saat posisi sandar. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar