Peristiwa

Sudah 11 Hari Mereka Terkurung Banjir

Warga Dusun Beluk diangkut perahu karet milik relawan bencana, Senin (11/1/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Perahu karet itu bergerak perlahan ditarik oleh tenaga manusia. Di atas perahu, ada tiga wanita berjilbab duduk santai. Salah satunya adalah Sri Utami (42). Mereka hendak pergi ke lokasi pengungsian. Perahu terus bergerak menyusuri genangan air di jalan desa Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang, Senin (11/1/2021).

Di atas perahu tersebut Sri juga membawa sejumlah barang yang baru saja diambilnya dari rumah. Penarik perahu adalah relawan bencana asal Jombang. Mereka membantu warga dari kepungan bencana. Termasuk menyediakan perahu karet untuk keperluan warga.

Di lokasi lainnya, anak-anak kecil sedang bermain air. Mereka memukul-mukulkan tangan di atas permukaan air tersebut. Semua dilakukan dengan penuh keceriaan. Seolah-olah mereka sedang bermain di atas kolam raksasa.

Itulah banjir yang menerjang Dusun Beluk. Ketinggian air bervariasi antara 40 hingga 60 meter. Tentu saja, selain menggenang di jalan, air bah juga masuk rumah. Tidak tanggung-tanggung, kondisi tersebut sudah berlangsung selama 11 hari.

Selama itu, ada warga yang mengungsi ke lokasi lebih aman, namun ada juga yang memilih tetap bertahan di rumah. Dengan catatan, mereka memindahkan barang-barang berharga ke tempat lebih tinggi. Di atas perahu Sri memandang hamparan air yang merendam dusunnya.

Memang, bagi warga Dusun Beluk, datangnya musim hujan menjadi berkah sekaligus musibah. Manjadi berkah karena air yang tumpah dari langit tersebut bisa digunakan untuk pengairan sawah. Tapi hal itu sewaktu-waktu berubah menjadi musibah.

Pasalnya, tingginya curah hujan membuat sungai yang melintasi Dusun Beluk debit airnya meningkat. Nah, air di Avour Watudakon tersebut kemudian meluap. Airnya mengalir ke jalan desa, lalu masuk tanpa permisi ke rumah-rumah warga. “Ini banjir rutin setiap tahun,” kata Sri dengan suara lirih.

Sri memilih mengungsi karena air sudah masuk rumahnya hinga ketinggian di atas mata kaki. “Saya mengungsi dari kemarin. Ini tadi pulang untuk mengecek dan mengambil barang,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan Karnadi (56), warga lainnya. Sejak pagi, Karnadi sibuk membantu mengangkat barang milik warga yang hendak mengungsi. Karnadi berharap agar segera ada penanganan riil dari pemerintah, mengingat banjir Dusun Beluk merupakan bencana rutin tahunan.

Lain lagi dengan Ngatiasih. Dia lebih memilih bertahan di rumah. Itu karena kondisi rumahnya agak tinggi. Namun demikian, ibu rumah tangga ini ada permasalahan soal air bersih. Karena sumur miliknya tak luput dari amukan banjir.

Beruntung, di dusun tersebut disediakan tandon air bersih yang setiap hari diisi oleh petugas. Sehingga untuk memasak dan mandi, warga bisa mengambil air bersih dalam tandon itu. “Untuk bantuan air bersih tidak ada kekurangan. Begitu juga untuk bantuan makanan, semuanya lancar,” katanya ketika ditemui saat mengambil air bersih.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kasun) Beluk, Sis Setyo Budiyanto mengatakan, banjir di dusunnya sudah masuk hari yang ke-11.  Saat ini, lanjut Kasun, ketinggaian air yang menggenangi jalan hampir 1 meter.

“Selain jalan desa, sekitar 170 rumah juga tergenang. Selain itu, area persawahan warga mengalami nasib serupa. Saat ini sawah yang berubah menjadi lautan luasnya 90 hektar. Soal lahan pertanian, kami berharap bantuan pemerintah,” kata Sis.

Baik Sri, Karnadi, Ngatiasih, maupun Kasun Beluk memilik harapan senada; banjir segera menyingkir, sehingga warga bisa kembali hidup normal. Warga bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. “Bayangkan 11 hari kami terkepung banjir,” pungkas mereka. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar