Peristiwa

Suara Ini Hantui Warga di Lereng Raung Sepanjang Malam

Banyuwangi (beritajatim.com) – Suasana erupsi Gunung Raung menjadi pengalaman baru yang sekaligus menegangkan saat malam hari. Kondisi gelap dan sunyi. Suara binatang malam terdengar lirih di antara keheningan.

Namun, sesekali ada suara keras menggelegar menjadi pembeda. suara itu berasal dari perut gunung setinggi 3332 Mdpl yang membentang di tiga Kabupaten, Banyuwangi, Jember dan Bondowoso itu. Suara terdengar jelas, mirip gemuruh petir menyambar.

Bagi sebagian warga di lereng raung menjadi hal biasa. Meskipun tak sedikit dari mereka yang khawatir dan dihantui rasa takut.

“Ya kalau takut, ya takut. Tapi kalau takut terus kita gak malah gak kerja dan gak makan. Kita tetap waspada saja,” ucap Sukini warga Kampung Mangaran, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kamis (11/2/2021).

“Sekarang nggak seperti pada tahun 2015, sekarang orang sini lebih tenang. Dulu itu panik, banyak orang sini yang jual ternak dan mengungsi,” imbuhnya.

Mengenai suara menggelegar, warga menyebutnya Mbah Raung sedang batuk sambil menghisap rokok. Karena, setelah muncul cahaya api, kerap diiringi dengan suara gemuruh keras.

“Kadang keras, kadang juga pelan. Kalau keras, kaca rumah sampai bergetar. Cahaya apinya itu merah di atas terus asapnya itu tinggi,” ungkap Ahmad Husaini warga lainnya di Kampung Sempol, Desa Sumberarum.

“Kalau malam itu seperti meraung-raung, mungkin itu gunungnya dinamakan Gunung Raung,” katanya.

Pengalaman menarik dirasakan sejumlah jurnalis yang meliput aktivitas erupsi Gunung Raung pada malam hari. Suara menggelegar sudah pasti terdengar, sisi lain ada yang menggelitik karena adanya bisikan magis yang terdengar.

“Kalau sudah melihat raung ya fokus ke pancaran cahaya saja. Kalau melihat sekeliling pasti hanya gelap dan sunyi yang terlihat. Hilangkan perasaan negatif, karena akan merusak fokus aktivitas kita,” ucap Budi seorang fotografer salah satu media nasional.

Dia mengakui, di tengah kegelapan ada sesuatu yang beda. Tapi, kondisi itu hanya diterjemahkan sebagai perasaan belaka.

“Ya, nggak tau tiba-tiba melihat kunang-kunang lewat. Anggapan kita di tengah hutan yang gelap pasti lain, tapi positif thinking saja,” pungkasnya. [rin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar