Peristiwa

Starting Grid Cegah Corona, Ini Faktanya

Probolinggo (beritajatim.com) – Tentara punya cara ketika dipaksa melawan pandemi Covid-19. Seperti di Probolinggo, untuk mengantisipasi lonjakan pasien covid-19, selain terus bergerilya memberi himbuan dari kampung ke kampung bersama warga, TNI juga mengatur pengguna jalan untuk menerapkan psycal distancing.

Untuk pengguna jalan, TNI punya trik unik. Yakni membuat batas antara kendaraan yang satu dengan yang lain saat berhenti di lampu merah. Sekilas, batas kendaraan khusus roda dua yang dicat di jalan ini, mirip lokasi start motor di lintasan balap atau biasa disebut starting grid.

Komandan Kodim 0820, Probolinggo, Letkol Inf. Imam Wibowo, mengatakan, trik dimaksud cukup efektif membuat masyarakat menjaga jarak disetiap kondisi. “Ini perintah Pangdam V Brawijaya, yang kami terjemahkan di lapangan,” kata dia.

Usaha mencegah lonjakan virus corona, lanjut Imam, tetap dilaksanakan tanpa memberi beban psikis masyarakat. “Alhandulillah, setelah saya dapat izin wali kota dan bupati, kita laksanakan protokol untuk pengendara motor ini,” tutup pria dikenal gemar berkebun itu.

Pantauan di lapangan, jarak antara pengendara motor yang satu dengan yang lain, dibuat sekira 2 meteran.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun meminta tiap orang untuk menjaga jarak sejauh kurang lebih 1-3 meter.

Namun apakah itu adalah jarak aman untuk physical distancing? Menurut juru bicara pelaksana gugus tugas percepatan penanganan COVID -19 Kabupaten Probolinggo, dr. Anang Budi Yoelijanto, telah meneliti dinamika pernapasan (batuk dan bersin, misalnya), jarak lebih jauh lebih aman.

“Saya tidak sedang menilai apakah upaya dilakukan Kodim 0820 itu sudah bagus atau tidak. Urgensi menurut kesehatan jarak yang dibuat 1-3 itu sudah bagus. Bahkan lebih jauh lebih aman dari resiko tertular covid-19,” singkatnya.

Sementara Dirut RSUD dr Mohammad Saleh, Kota Probolinggo, dr. Abrar Kudda, memastikan jarak ditentukan Kodim dalam rekayasa jalan cukup afektif menekan penularan covid-19. ” Jarak 1,8 meter saja sudah aman. Makanya wajib masker itu juga agar droplet tidak akan terbawa angin menulari pengendara motor lainnya,” kata dia.

Heru, pengguna jalan, yang dijumpai di lokasi marka pembatas sepeda motor di lampu merah, depan Makodim 0820 Probolinggo mengatakan, meski mengikuti protokol di jalan, tetap ia gunakan peralatan pelindung. “Terutama saya pakai selalu masker dan helem standart atau face shield,” katanya. [eko/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar